LENSAINDONESIA.COM: Rudi Nugraha Tanubrata (51) terdakwa pencabulan terhadap anak pacar, Senin (27/1/2020), menjalani sidang perdana dengan agenda dakwaan di pengadilan Negeri Surabaya.

Dalam sidang yang digelar tertutup di ruang Kartika 2 tersebut, pria yang berprofesi sebagai manager di salah satu hiburan malam terkenal di Bali ini, menolak dakwaan yang dibacakan jaksa Pompy Polansky dari Kejari Surabaya. “Saya ditekan penyidik pak hakim,” ujarnya sambil memperagakan isyarat tangan.

Mendengar pernyataan terdakwa, Hakim Yulisar mempertanyakan bentuk penekanan yang diterimanya. “Apakah saudara diancam menggunakan pistol,” tanya hakim.

Bos karaoke  yang tiga kali mencabuli korban yang masih SMP mengaku tidak diancam dengan pistol dan hanya memperagakan gerakan tangan.

“Apa maksud kamu begini (memperagakan tangan) itu. Begini… begini tidak jelas,” sergah hakim.

Guna melakukan konfrontir pernyataan terdakwa yang menolak dakwaan terhadap dirinya, majelis hakim meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pompy Polansky menghadirkan saksi (penyidik).

“Jaksa tolong besok hadirkan saksi penyidik untuk dimintai keterangannya,” pinta Hakim Yulisar.

Sementara Dani Suhendar selaku kuasa hukum terdakwa membenarkan kliennya menolak isi dakwaan. “Ya karena memang tidak sesuai, klien kami menolak dakwaan tersebut,” ujarnya singkat.

Perlu diketahui, terdakwa yang merupakan pacar dari ibu korban, melakukan pelecehan seksual tiga kali dengan meraba kemaluannya. Pertama dilakukan pertama kali pada 2016 lalu, saat menginap di saat berada di Hotel Cozy Jl Gunung Soputan, Denpasar Bali.

Terdakwa melakukan aksi bejat kedua kalinya saat menginap di Hotel Fave Jl Rungkut, Surabaya 2017 lalu. Seusai mandi, korban dipanggil dan dipangku, lalu terdakwa memasukan jarinya ke kemaluan korban.

Sementara aksi terakhir yang dilakukan di rumah terdakwa pada Juli 2019 di Perumahan Selingsing, Mengwi Badung, Bali, terdakwa yang tidur seranjang bersama korban dan ibunya, nafsu bejatnya kembali memuncak, lalu meraba payudara dan kembali memasukan jarinya ke kemaluan korban.

JPU Pompy Polansky sendiri mendakwa terdakwa dengan pasal 82 ayat (1) UU RI no 23 tahun 2002 dan tentang perlindungan perempuan dan anak dan diancam pidana selama 17 tahun penjara. @rofik