Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Aneh! Perkara sudah inkrah di Bekasi tapi disidangkan lagi di PN Surabaya, Hiu Kok Ming divonis 3 tahun penjara
Terdakwa Hiu Kok Ming saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya,Selasa (28/01/2020). FOTO: rofik-LICOM
HEADLINE DEMOKRASI

Aneh! Perkara sudah inkrah di Bekasi tapi disidangkan lagi di PN Surabaya, Hiu Kok Ming divonis 3 tahun penjara 

LENSAINDONEAIA.COM: Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya. Anne Rusiana menjatuhkan vonie pidana 3 tahun penjara terhadap teredakwa penipuan jual beli tanah, Hiu Kok Ming, Selasa (28/01/2020).

Dalam amar putusan yang dibacakan, Anne Rusiana menyatakan, terdakwa terbukti bersalah telah melakukan tindak pidana penipuan sebagai mana diatur dalam pasal 378 KUHP.

“Setelah mendengar keterangan para saksi dan melihat bukti bukti yang dihadirkan dalam sidang, Majelis Hakim menyimpulkan dan sepakat menjatuhkan pidana selama 3 tahun penjara terhadap terdakwa,” ucap Anne.

Putusan ini lebih ringan dari tuntuymtan jaksa penuntut umum yang menuntut terdakwa dengan pidana selama 3 tahun 10 bulan.

Usai mendengar vonis yang dijatuhkan terdakwa melalui Alvin selaku kuasa hukumnya menyatakan banding.

“Kami akan mengajukan banding yang mukia,” ujar Alvin

Terdakwa Hiu Kok Ming yang merasa tidak puas dengan putusan hakim, saat keluar dari ruang sidang sempat menyatakan bahwa proses hukum yang terjadi adalah pengadilan sesat. Hal senada juga diungkapkan Alvin.

“Saya bilang Ini pengadilan sesat. Ada dugaan rekayasa hukum yang sengaja dibuat. Hakimnya harus diusut. Saya berani jamin,” kata Alvin.

Dikatakanya, kasus ini sebelumnya sudah dinyatakan inkra di pengadilan Bekasi. Tetapi, tiba-tiba muncul di Polda Jatim, hingga berujung proses peradilan di Pengadilan Negeri Surabaya.

“Nah, saya sudah coba tracking, ternyata kasus kasus seperti ini sudah sering dilakukan oleh pelapor. Kasus masuk polda jatim. Dan anehnya, hakimnya selalu hakim Anne. Dan semua terlapor tidak ada yang menang. Ini sudah berulang-ulang,” lanjut Alvin.

Atas kejadian ini, Alvin menyebut bahwa kerja hakim di pengadilan telah meruntuhkan marwah dan wibawa pengadilan.

“Ibaratnya, ada kasus sampah dilempar didaur ulang hingga  jadi bersih. Yang tertulis di halaman pengadilan ada kalimat ‘Bebas Korupsi’, hanya kamuflase,” tutupnya.

Sementara Hiu Kok Ming saat dikonfirmasi mengaku merasa dijebak.

“Saya awalnya tidak jual, cuma mereka yang ngotot mau beli. Surat-surat juga belum selesai waktu itu. Mereka menawarkan akan membantu mengurus, apalagi dikasih deadline 6 bulan. Ternyata, mereka tidak mau membantu. Bahkan BPN biasanya cepat selesai, ini juga aneh, sampai enam bulan juga tidak selesai.” singkatnya.

Diketahui, sengketa tanah ini terjadi ketika Hiu Kok Ming menjual sebidang tanah seluas lebih kurang 5 Hektare kepada pelapor Widjijono Nurhadi di Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun, Kabupaten Bekasi.

Di kemudian hari, ternyata tanah 5 hektare di Bekasi tersebut belum sah menjadi milik terlapor karena terkendala belum keluarnya sertifikat dari BPN.@rofik