LENSAINDONESIA.COM: Meninggalnya Tokoh Kharismatik yang sangat bersahaja membuat duka mendalam. Begitu banyak pelajaran dari sosok Tokoh Bangsa adik kandung Gus Dur dari Pesantren Tebuireng ini, Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun, Senin (03/02/2020).

Kenangan bersama KH Salahudin Wahid atau Gus Sholah juga menjadi bagian dari kehidupan Tokoh Jawa Timur Zahrul Azhar Asad atau yang lebih dikenal Gus Han. Dirinya mengenang sosok Gus Solah yang sangat bersahaja dalam segala hal.

Gus Han bercerita tentang kenangan mengundang beliau dalam acara tasyakuran sederhana. Pada suatu waktu, Gus Hans hendak mengadakan tasyakuran kecil-kecilan di rumah dan saat itu baru nge-trend-nya BBM belum ada WhatsApp, Gus Hans mencoba membuat undangan tanpa kertas, maka ia pun “mem-broadcast” cukup melalu media BBM, dan salah satu yang di share adalah Gus Solah.

Saat itu, pengasuh Pondok Pesantren Queen Darul Ulum Rejoso, Peterongan ini hanya berfikir yang penting adalah mendapat doa dari beliau (Gus Solah) itu sudah Alhamdulillah. Tapi ternyata di luar dugaan, Gus Solah justru mengajak Bu Nyai hadir dalam acara tasyakuran kecil-kecilan tersebut.

“Dalam kesempatan itu Gus Sholah bercerita panjang lebar tentang pesantren terutama pesantren yang beliau asuh, Pesantren Tebuireng. Beliau menyampaikan tentang rencana regenerasi di Tebuireng tentang siapa dan kapan,” terang Gus Han seperti ditulis Zahrul Azhar Han di laman Facebook.

Mementum membuat membuat Gus Han yang dikenal sebagai tokoh muda NU Jawa Timur ini sangat berkesan.

Gus Han mengungkapkan, Gus Solah adalah pribadi yang sangat enak diajak berdiskusi karena tidak memposisikan diri lebih ‘ tinggi ‘ dari yang lain. Apalagi, setiap kata yang ia ucapkan memiliki makna. “Apa yang beliau ucapkan itu adalah yang beliau lakukan,” ungkapnya.

Gus Han yang juga politisi Partai Golkar ini mengaku meneladani sosok Gus Sholah yang tidak pandang bulu dan sangat tulus dalam menyikapi dan memberi solusi terhadap segala persoalan. Cara memandang terhadap bangsa jauh dari hal-hal yang sifatnya pragmatis.

“Beliau bisa diterima di sayap kanan dan beliau juga bisa bergaul di sayap kiri, cara pandangnya terhadap jamiyah Nahdlatul Ulama tampak nothing to loose” bebernya.

“Beliau adalah pribadi yang sudah selesai dengan hidupnya, sehingga beliau merasa tidak ada beban untuk berbeda dengan yang lain jika beliau yakini benar,” imbuh Gus Han, mantan Juru Bicara Khofifah dalam Pilgub Jatim.

“Berkali kali beliau menyampaikan syukurnya atas ‘capaian usia’ yang melampaui kakaknya (Gus Dur). Dan saya yakin beliau kini bersuka cita karena kini sudah bisa bersama-sama di alam sana,” harapnya.

“Selamat jalan Kiyai, rasanya belum selesai diri ini menimbah ilmu kesahajaan yang panjenengan miliki, tapi Alloh sudah lebih dahulu memanggil. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun,” doanya.@obie