Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Ada aroma upaya suap? Henry J Gunawan dan 4 terdakwa perkara penyerobotan tanah Puskopkar saling tuding
Di depan Majelis Hakim PN Sidoarjo, terdakwa Henry J Gunawan membacakan pembelaan atas tuntutan JPU selama 6 tahun penjara. @foto:ari
HEADLINE

Ada aroma upaya suap? Henry J Gunawan dan 4 terdakwa perkara penyerobotan tanah Puskopkar saling tuding 

LENSAINDONESIA.COM: Owner PT Gala Bumi Perkasa, Henry J Gunawan menyampaikan pembelaan (pledoi), lantaran dituntut hukuman enam tahun penjara terkait perkara pemalsuan akta otentik dan penyerobotan tanah rakyat 20 hektar milik Puskopkar di Sidoarjo. Henry membacakan sendiri pembelaannya di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Senin (10/02/2020).

Dalam menanggapi tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Sidoarjo itu, Henry menolak dikaitkan turut serta memalsukan akte otentik pelepasan atas tanah Puskopkar (Pusat Koperasi Karyawan) Jatim kepada terdakwa Reny Susetyowardhani (Direktur Utama PT Dian Fortuna Erfisindo).

Henry pun menyudutkan terdakwa lain, yaitu Reny itu terkait pemalsuan akte otentik pelepasan tanah di Desa Pranti Kec Sedati, Sidoarjo tersebut.

“Saya tidak pernah bertemu dengan terdakwa Reny membicarakan pelepasan tanah di Desa Pranti, karena saat itu saya bukan pengurus PT Gala Bumi Perkasa,” kata terdakwa Henry J Gunawan di hadapan Majelis Hakim PN Sidoarjo dikutip LensaIndonesia.com.

Empat terdakwa lain dalam perkara yang sama ini juga menyampaikan pembelaannya menanggapi tuntutan JPU dalam sidang sepekan sebelumnya, Senin (03/02/2020). Yaitu, Dirut PT Dian Fortuna Erisindo Reny Susetyowardhani, notaris Dyah Ekapsari Nuswantari, notaris Yuli Ekawati yang juga legal corporate PT Gala Bumi Perkasa, dan notaris Umi Chalsum.

Pembelaan masing-masing terdakwa itu, ternyata satu sama lain saling tuding tak ubahnya terdakwa Henry menuding Reny.

Terdakwa Notaris Umi Chalsum menuding Notaris Dyah Ekapsari sebagai penanggungjawab akte pelepasan tersebut.

Umi Chalsum yang oleh JPU Ridwan Dharmawan dianggap terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 264 ayat 1 KUHP, dan dituntut penjara 5 tahun, dia membela diri bahwa Notaris Dyah yang membuat akte itu. Dirinya cuma mediator saja.

Sebaliknya, terdakwa Notaris Dyah menuding terdakwa Reny dan Umi Chalsum yang mengatur konsep pembuatan akte notaris dengan tahun mundur. Pertimbangan demi kepastian hukum, dan dikemudian hari tidak ada masalah hukum.

“Saya berani tanda tangan akte yang sudah disodorkan Umi Chalsum dan Reny, karena jaminan dikemudian hari tak ada masalah hukum,” elak Dyah yang oleh JPU dituntut hukuman 5 tahun, karena terbukti melanggar pasal 264 ayat 1 KUHP.

Lain lagi, terdakwa Reny Susetyowardhani. Sang Dirut PT Dian Fortuna Erisindo yang oleh JPU dituntut hukuman 5 tahun 6 bulan ini, sepertinya cuci tangan dan memojokkan terdakwa Dyah sebagai pembuat akte palsu.

“Saya tidak pernah tahu ada akte palsu, saya tidak pernah menyuruh membuatnya,” kilah Reny, yang pembelaannya dibacakan kuasa hukumnya.

Pembelaan saling lempar kesalahan itu juga diungkapkan terdakwa Yuli Ekawati yang oleh JPU dituntut 5 tahun, karena terbukti melanggar pasal 264 ayat 1 KUHP.

Notaris yang juga legal corporate PT Gala Bumi Perkasa ini mengaku tidak tahu ada akte palsu dalam pelepasan tanah di Desa Pranti tersebut. Sebagai legal corporate PT Gala Bumi Perkasa, dirinya hanya menerima surat akte yang disodorkan pihak penjual, yakni terdakwa Reny.

Menanggapi pembelaan para terdakwa itu, JPU menyampaikan kepada Majelis Hakim PN Sidoarjo, pihaknya akan memberikan tanggapan tertulis dalam sidang lanjutan Senin pekan depan,

Diketahui, perkara penyerobotan tanah rakyat yang cukup mengundang perhatian masyarakat di Jawa Timur lantaran melibatkan pengusaha Henry J Gunawan ini penyidikannya pun ditangani langsung Bareskrim Mabes Polri. Total ada lima orang terdakwa. Prosesi sidang perkara ini juga disebut-sebut dipantau khusus Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ada aroma upaya suap menyuap mempermainkan peradilan.

Kelima terdakwa selain Henry, melibatkan notaris Dyah Ekapsari Nuswantari, notaris Yuli Ekawati yang juga legal di PT Gala Bumi Perkasa, dan Reny Susetyowardhani (Direktur Utama PT Dian Fortuna Erisindo), serta notaris Umi Chalsum.

Proses sidang yang digelar sepekan sekali setiap Senin ini, terbiasa belangsung hingga malam hari. Kali ini, kelima terdakwa seperti sidang sebelumnya, digelar secara terpisah dan bergantian.

Henry J Gunawan dituntut 6 tahun, hanya selisih satu tahun dibanding para terdakwa lainnya. Penetapan tuntutan pada sidang sepekan sebelumnya itu, memang mengundang tanda tanya. Pasalnya, Henry sebagai terdakwa selain menguasai tanah Puskopkar 20 hektar berlokasi strategis di depan Bandara Juanda secara ilegal, bahkan oleh penyidik Bareskrim diasumsikan tindakannya itu membuat kerugian Puskopkar mencapai Rp300 miliar.

Sementara itu, peran terdakwa lain yaitu para notaris yang terlibat pembuatan akte otentik fakta persidangan tidak terungkap bertujuan mendapat bagian keuntungan materi atas penyeborotan tanah itu, justru tuntutannya hanya selisih setahun dari Henry, yaitu lima tahun.

Begitu pula, tuntutan untuk ketiga terdakwa notaris tersebut dibanding Reny Susetyowardhani terdakwa penjual tanah Puskopkar kepada Henry. Selisihmua hanya 6 bulan. Padahal, Reny sudah mengantongi uang miliaran dari pemberian uang muka dari Henry sebesar Rp 3 miliar.

Disebutkan bahwa Notaris Dyah membuat sejumlah surat pelepasan atas tanah dan akta otentik karfena permintaan terdakwa Reny dan notaris Umi Chalsum imbalannya, setiap surat sebesar Rp 5 juta.

“Terdakwa menerima Rp 30 juta atas surat-surat yang dibuatnya. Surat itu tertulis Desember tahun 2000, padahal sebenarnya dibuat pada Desember tahun 2008,” urai JPU Dharmawan. @rm//ar/aji