LENSAINDONESIA.COM: Perum Jasa Tirta (PJT) I tahun 2020 ini memasuki usia 30 tahun. BUMN pengelola Sumber Daya Air (SDA) sejak 1990 itu merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) salah satunya dengan menggelar workshop di Surabaya, Senin (10/02/2020).

Bertema ‘Transformasi Bisnis Melalui Pembangunan SDM Untuk Mewujudkan BUMN Pengelola SDA yang Inovatif dan Berkinerja Unggul’, PJT I terus memperbaiki pelayanannya.

“PJT I ini dibentuk dan memiliki tugas sesuai PP yang terbaru Nomer 46 Tahun 2010. Dan besok 12 Februari HUT ke-30 tahun. Workshop ini bagian dari acara rangkaian HUT. Yang terpenting ada tiga poin untuk merefleksi diri, kenapa lahir, bagaimana perjalanan setelah lahir, ke depan mau bagaimana,” kata Plt Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Widiarto.

Ia menjelaskan, PJT I ini lahirnya sudah tidak 1990. Pasalnya, sejak tahun 1980-an sudah digagas lahirnya pengelola SDA pasca pembangunan bendungan di DAS Brantas. “Siapa yang mengelola dan menggagas pembentukan lembaga ini sejak tahun 1986 dan lahir PJT I pada tahun 1990,” kata Widiarto.

Tak hanya itu, PJT I digagas untuk mengelola SDA memberikan layanan masyarakat di bidang SDA. Sebelumnya, PJT I di bawah pembinaan Kementerian PUPR, sekarang ada badan usaha di bawah Kementerian BUMN.

“Ada dua misi yaitu mengolah SDA dan badan usaha yang harus mencari keuntungan. Ini dua hal yang berbeda arah, tapi tidak masalah. Layanan pada masyarakat tetap dikerjakan. Untuk itu sesuai regulasi baru UU No 17 Tahun 2019 tentang SDA, kita perlu duduk bersama antara PUPR dan BUMN untuk refokusing agar tetap menjadi badan usaha bidang SDA ke depan,” jelasnya.

Pihaknya juga menilai sejauh ini kinerja PJT I cukup bagus dalam rangka memberikan layanan pada masyarakat.

“Perusahaan ini menjadi bisnis usaha atau sebagai tugas, maka perlu ketemu. Untuk menghadapi tantangan ke depan harus smart menjalankan bisnis pengelolaan SDA. PJT I pasti punya anak usaha juga dalam mengelola badan usaha,” pungkasnya.

Sementara, Direktur Utama PJT I Raymond Valiant Ruritan menambahkan memasuki usai ke-30 tahun ini PJT I memberikan kemudahan akses digitalisasi untuk memudahkan masyarakat memantau potensi banjir yang dapat diakses oleh publik.

“Terobosan digitalisasi ini kita mau going open. Kita mau publish data hidrometri dan hidroloigi yang bisa diakses publik. Kita sambung dengan platform yang dimiliki Kementerian PUPR sehingga bisa satu data untuk satu wilayah sungai,” ungkap Raymond.

Saat ini, PJT I telah membangun Command Centre sebagai pusat kendali banjir yang mencakup 5 wilayah sungai strategis nasional, diantaranya Sungai Brantas, Bengawan Solo, Jeratun Seluna, Serayu Bogowonto dan Toba Asahan. Command Center telah dioperasinalkan sejak 31 Januari 2019 lalu.

Adapun data yang dapat terpantau, selain titik elevasi permukaan sungai dan debit air, ruang kontrol yang terintegrasi secara realtime dan online, serta mampu mengetahui kondisi kualitas air. Melalui Command Center itu juga dapat memantau dan memperingatkan akan terjadinya bencana yang bisa dideteksi lebih dini.

Misalnya, saat kondisi curah hujan lebih dari 50 mm dalam sejam atau ada luapan dari air sungai ke bendungan dan itu masuk kategori kritis. Maka di layar akan nampak dari biru ke tanda siaga hijau, kuning, atau merah.

“Petugas memantau dan melaporkannya selama 24 jam sehari. Hanya dalam tataran air ya. Kecuali gempa bumi tak bisa terdeteksi,” jelas Raymond.@sarifa