LENSAINDONESIA.COM: Mungkin Anda sudah tidak asing mendengar kata profesional dalam kehidupan Anda. Namun, apa yang sebenarnya dimaksud dengan profesionalitas itu sendiri?

Menurut Hamalik, tenaga kerja pada hakikatnya mengandung aspek profesionalisme yang artinya tenaga kerja tersebut memiliki kemampuan dan keterampilan kerja atau kejujuran dalam bidang tertentu. Dengan kemampuan dan keterampilan tersebut, seorang pekerja dapat mengabdikan dirinya dalam lapangan kerja tertentu dan menciptakan hasil yang baik secara optimal.

Dengan demikian, tenaga kerja profesional diartikan sebagai kepandaian atau keahlian khusus yang dimiliki seorang pekerja dalam melakukan suatu pekerjaan secara efektif dan efisien dengan tingkat keahlian tinggi sehingga dapat mencapai tujuan perusahaan dengan baik.

Contoh dari tenaga kerja profesional yaitu dokter di rumah sakit atau auditor di kantor pajak, orang-orang tersebut melakukan pekerjaan tersebut karena ahli dalam bidang pekerjaannya serta mau meluangkan waktu, tenaga dan perhatiannya untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Karakteristik Tenaga Kerja Profesional
Menurut Anoraga, terdapat lima ciri-ciri dari dasar profesionalisme yaitu:
1. Profesionalisme menghendaki sifat mengejar kesempurnaan hasil, sehingga dituntut untuk selalu mencari peningkatan mutu.
2. Profesionalisme memerlukan kesungguhan dan ketelitian kerja yang hanya dapat diperoleh melalui pengalaman dan kebiasaan.
3. Profesionalisme menuntut ketekunan dan ketabahan, yaitu sifat tidak mudah puas atau putus asa sampai hasil tercapai.
4. Profesionalisme memerlukan integritas tinggi yang tidak tergoyahkan oleh “keadaan terpaksa” atau godaan iman seperti harta dan kenikmatan hidup.
5. Profesionalisme memerlukan adanya kebutuhan pikiran dan perbuatan, sehingga terjaga efektivitas kerja yang tinggi.

Karyawan atau tenaga profesional biasanya akan memiliki kelima ciri-ciri tersebut, kelima ciri tersebut dapat meningkatkan kinerja tenaga kerja itu sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan.

Faktor-Faktor Sikap Profesional Tenaga Kerja
Menurut Andriyanu, terdapat empat faktor yang dapat mempengaruhi sikap profesional tenaga kerja pada sebuah perusahaan. Keempat faktor tersebut adalah performance, akuntabilitas pegawai, loyalitas pegawai dan kemampuan pegawai yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Performance
Faktor yang pertama adalah performance atau prestasi kerja, hasil akhir yang paling diinginkan oleh seseorang atau perusahaan terhadap karyawannya. Prestasi kerja sendiri dapat dilihat dari kuantitas kerja, kualitas kerja, pengetahuan tentang pekerjaan dan pendapat atau pernyataan yang disampaikan terkait dengan pekerjaan yang dilakukan.

b. Akuntabilitas
Faktor kedua yang mempengaruhi sikap profesional tenaga kerja adalah akuntabilitas, yang dimaksud dengan akuntabilitas disini adalah kebijakan strategis yang dapat diimplementasikan untuk menciptakan kepatuhan pelaksanaan tugas dan kinerja pegawai.

c. Loyalitas
Faktor berikutnya yang dapat mempengaruhi sikap profesional tenaga kerja adalah loyalitas pegawai dengan maksud kesetiaan kepada konstitusi, hukum, pimpinan, bawahan dan rekan kerja yang saling berkaitan satu dan lainnya.

d. Kemampuan
Faktor yang terakhir yang dapat memengaruhi sikap profesional tenaga kerja adalah kemampuan yang dimiliki oleh karyawan atau tenaga kerja itu sendiri, hal ini terkait dengan potensi yang dimiliki karyawan dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya.

Mengenai sertifikasi kompetensi atau kemampuan sendiri telah dijelaskan di dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 Pasal 18 yang berbunyi:
(1) Tenaga kerja berhak memperoleh pengakuan kompetensi kerja setelah mengikuti pelatihan kerja yang diselenggarakan lembaga pelatihan kerja pemerintah, lembaga pelatihan kerja swasta atau pelatihan di tempat kerja.

(2) Pengakuan kompetensi kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui sertifikasi kompetensi kerja.

(3) Sertifikasi kompetensi kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat pula diikuti oleh tenaga kerja yang telah berpengalaman.

(4) Untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja dibentuk badan nasional sertifikasi profesi yang independen.

(5) Pembentukan badan nasional sertifikasi profesi yang independen sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Apa Itu Tunjangan Profesi?
Pada dasarnya tunjangan merupakan bagian dari upah, untuk mengelola tunjangan karyawan, Anda bisa memanfaatkan software HR seperti Talenta. Dengan Talenta, Anda dapat menghitung tunjangan seluruh karyawan Anda dengan mudah, cepat dan tepat. Seperti pada PP Pengupahan No 78 Tahun 2015 Pasal 5 ayat (1) yang menerangkan bahwa komponen upah adalah:

a. Upah tanpa tunjangan;
b. Upah pokok dan tunjangan tetap; atau
c. Upah pokok, tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap.

Tunjangan dibagi menjadi dua, yaitu tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap. Tunjangan tetap dapat diartikan sebagai pembayaran kepada karyawan atau tenaga kerja secara teratur dan tidak terkait dengan kehadiran atau prestasi yang diberikan berdasarkan satuan waktu pembayaran upah. Contohnya tunjangan anak/istri, tunjangan jabatan dan tunjangan rumah.

Sedangkan tunjangan tidak tetap adalah pembayaran kepada karyawan atau tenaga kerja secara tidak tetap dan dibayarkan menurut satuan waktu yang tidak sama dengan waktu pembayaran upah. Contoh dari tunjangan tidak tetap adalah tunjangan kehadiran, seperti uang makan dan transport.

Namun, pada dasarnya perusahaan tidak diwajibkan untuk memberikan tunjangan profesi bagi tenaga kerja profesional yang bekerja pada perusahaan tersebut. Hal ini beracuan pada PP Pengupahan dimana dijelaskan bahwa pengusaha tidak melanggar ketentuan hukum tertentu apabila hanya membayar upah tanpa tunjangan dan satu-satunya tunjangan yang wajib dibayarkan perusahaan kepada karyawan adalah Tunjangan Hari Raya (THR).

Meskipun begitu, perusahaan dapat memasukkan tunjangan profesi dapat dimasukkan menjadi kebijakan perusahaan yang diatur dalam peraturan perusahaan maupun perjanjian kerja yang kemudian disetujui oleh kedua belah pihak, baik karyawan maupun perusahaan.

Perusahaan dapat memasukkan tunjangan profesi sebagai tunjangan tetap dan tunjangan tersebut diberikan kepada karyawan yang memiliki sertifikasi dan kecakapan yang spesifik atau spesialisasi keahlian tertentu bersamaan dengan dibayarkannya upah.

Dan, apabila perusahaan menjadikan tunjangan profesi sebagai tunjangan tetap, maka tunjangan tersebut akan dimasukkan ke dalam perhitungan pesangon karyawan.

Hal tersebut terjadi jika PHK yang dilakukan perusahaan atau pengusaha, maka tunjangan profesi tersebut harus dibayarkan sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan Pasal 157 ayat (1) yang menjelaskan bahwa komponen upah sebagai dasar dari perhitungan pesangon adalah upah pokok dan segala tunjangan yang bersifat tetap. @valen