LENSAINDONESIA.COM: Intensitas curah hujan memasuki tahun 2020 ini berdampak sebagian wilayah Indonesia terlanda bencana banjir. Ibu Kota DKI Jakarta yang setiap tahun mengalami problem banjir rutin, kali ini, sejak awal hingga akhir Februari 2020 juga terus dilanda banjir parah.

Begitu pula untuk daerah penyangga DKI Jakarta seperti kabupaten/ Kota Bekasi, Bogor, Tangerang, termasuk Depok.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menawarkan solusi untuk mengatasi bencana banjir itu, termasuk daerah yang rawan bencana banjir di Indonesia. Agaknya, amat layak khususnya bagi kepala daerah seperti Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk tidak lagi melakukan pembiaran egosektoral, apabila ingin menyelamatkan warganya dari ancaman bencana banjir.

Begitu pula bagi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Banten Wahidin Halim yang wilayahnya tahun ini juga tidak terhindar dari bencana banjir.

Salah satu solusi Doni, bisa dimaknai upaya menumbuhkan kinerja saling bersinergi di antara instansi terkait, atau tidak lagi harus mempertahankan sikap arogansi egosektoral. Khususnya, dalam mengembalikan fungsi konservasi daerah aliran sungai (DAS) yang semakin terdegradasi parah hingga banjir pun bertambah parah.

DAS mengalami degradasi akibat beberapa faktor. Di antaranya, eksploitasi lingkungan/alam hingga alih fungsi kawasan, sendimentasi atau pendangkalan DAS disebabkan misal, pembuangan sampah hingga penebangan liar pohon konservasi DAS.

“Kawasan sekitar DAS mengalami degradasi karena beberapa faktor yang berkaitan dengan eksploitasi alam hingga alih fungsi kawasan,” kata Doni dalam Rapat Koordinasi (Rakor) penanganan DAS Lawe Alas, Aceh di Graha BNPB, Jakarta, Kamis 27 Februari 2020.

Dalam Rakor itu, Doni juga menawarkan solusi yang sama untuk mengatasi banjir yang juga kerap terjadi di DAS Lawe Alas. Upaya pencegahan tetap harus dilakukan pengembalian fungsi konservasi DAS di sepanjang hulu hingga hilir.

Mengembalikan fungsi konservasi DAS diartikan sebagai upaya-upaya pelestarian lingkungan yang didasari pada peran dan fungsi setiap wilayah dalam DAS dan mencakup aspek perlindungan, pemeliharaan dan pemanfaatan ekosistem secara berkelanjutan.

Apalagi, Kepala BNPB berdarah Minang kelahiran Cimahi, Jawa Barat ini mengingatkan, dari Gayo Lues hingga Aceh Tenggara telah terjadi perubahan vegetasi atau jenis-jenis flora. Sepanjang DAS Lawe Alas didominasi tanaman pertanian dan perkebunan.

“Saat menyusuri rute dari kawasan Danau Toba, Kutacane hingga Takengon pada 2011, saya juga melihat betapa Sungai Lawe Alas mengalami perubahan fisik karena sedimentasi,” kata Doni, yang belakangan ikut disibukkan evakuasi para WNI dari ancaman virus corona di Wuna maupun Kapal Pesiar Hongkong, dikutip MineNews.com, Kamis (27/02/2020).

Pengembalian fungsi konservasi di kawasan DAS, menurut Doni, bisa dilakukan dengan penanaman tanaman yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Khusus untuk wilayah Aceh, dia menyarankan bisa berupa tanaman kopi yang memang sudah terkenal di Bumi Serambi Mekkah itu.

“Perguruan tinggi dapat membantu meneliti jenis tanaman apa yang cocok dengan tanah sekitar, sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” papar mantan Pangdam III Siliwangi, penggagas Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum yang merupakan program nasional mengembalikan kerusakan ekosistem dan tercemarnya sungai Cutarum terpanjang di Jawa Barat, dengan melibatkan personel TNI Kodam III Siliwangi ini.

Pengembalian fungsi konservasi DAS Lawe Alas juga bisa dilakukan dengan mengembangkan konsep wisata alam. Pasalnya, Aceh berpotensi cukup besar dalam mendatangkan wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. @jrk