LENSAINDONESIA.COM: Persoalan banjir yang masih menjadi momok sebagian warga Kota Bekasi, kini juga menjadi prioritas perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi. Salah satu upaya antisipasinya, Pemkot melakukan normalisasi sungai dan pembuatan folder air difokuskan di wilayah Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi.

Mempercepat solusi normalisasi, Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto tidak segan-segan turun memeriksa kondisi wilayah RW 20 dan RW 22, di Kelurahan Pejuang itu. Bahkan, Wakil Wali Kota juga mengajak tim perwakilan Dirjen Sumber Daya Air ke lokasi mengawali agenda kerjanya dalam pekan ini.

Membawa staf jajarannya, Tri mendatangi Jalan Alpukat wilayah RW 20. Tri menyaksikan langsung aliran kali irigasi dipenuhi sampah dan tumbuhan. Rusaknya ekosistem daerah aliran sungai (DAS) inilah menyebabkan aliran sungai tersendat. Tri langsung memutuskanjajarannya segera koordinasi bersama BBWSCC (Balai Besar Wliayah Sungai Ciliwung Cisadane) dan dinas terkait untuk melakukan pengerukan dan normalisasi sungai.

Wakil Wali Kota ini juga meninjau lahan fasum seluas 2400 m2 di RT 9 setempat, yang bisa dimanfaatkan untuk pembuatan folder dengan kedalaman 8 meter. Tri optimistis lahan tersebut sangat efektif difungsikan pengendali muka air dan penampung air banjir.

“Di sini bisa kita buatkan folder untuk mengendalikan air limpasan. Minimal bisa mengurangi banjir dengan pompa-pompa yang kita sediakan,” ucap Tri.

Kemudian, Tri melanjutkan perjalanan ke RW 22. Kondisinya cukup memprihatinkan, sepanjang aliran Kali Bancong di RW ini berdiri bangunan-bangunan liar. Tri pun geleng-geleng kepala. Akibat ekosistem kawasan sungai yang rusak itu, sungai semakin menyempit dan terjadi sendimentasi akut pendangkalan sungai. Sehingga, tiap tahun menjadi penyebab banjir.

Tri berpendapat, salah satu jalan keluar dari persoalan tersebut harus melakukan penataan sungai kembali. Untuk itu, dirinya memerintahkan dinas terkait untuk melakukan penertiban.

“Daerah aliran sungai tidak boleh didirikan bangunan. Ini harus segera ditertibkan, karena aliran air jadi makin menyempit dan kita kesulitan melakukan normalisasi,” tutur pria yang akrab disapa Mas Tri ini. Artinya, jika masyarakat sudah tak peduli menjaga ekosisten sungai, praktis identik prilaku sengaja mengundang bencana banjir.

Lebih lanjut, Tri menegaskan pihaknya akan melakukan sosialisasi sebelum nantinya ditertibkan dan dilakukan normalisasi.

Dalam kesempatan itu, Tri juga mengajak Dinas SDA dari Kabupaten Bekasi untuk dapat saling mendukung program tersebut. Pasalnya, DAS (Daerah Aliran Sungai) itu juga melintasi wilayah Kabupaten Bekasi sebelum menuju hilir ke laut. @sofie