LENSAINDONESIA.COM: ‘Kasak-kusuk’ memuluskan upaya aklamasi pemilihan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur terjadi menjelang Pra Musyawarah Daerah (Musda) ke-X DPD Partai Golkar Jatim. Rencananya Pra Musda akan digelar pukul 19.30 WIB malam ini.
Berdasarkan pengamatan lensaindonesia.com, adanya upaya pemilihan secara aklamasi ini membuat sejumlah pengurus DPD II Partai Golkar Kabupaten/Kota marah. Mereka ingin pemilihan ketua DPD Partai Golkar Jatim melalui Musda ini berjalan secara demokratis.
“Semua informasi tertutup jam 13.00 WIB. Sudah berbeda kalau Musda diselesaikan di luar forum Musda, tidak ada lagi demokrasi di partai Golkar,” kata seorang kader Partai Golkar yang berkumpul bersama sejumlah pengurus  DPD II Partai Golkar Kabupaten/Kota di salah satu hotel di Surabaya, Rabu (05/03/2020).
Menurutnya, melaksanakan pemilihan ketua Golkar Jatim dengan cara aklamasi ini adalah bentuk pembungkaman, sebab tidak mengakomodir suara dari pengurus di tingkat kabupaten/kota.
“Ini pembungkaman demokrasi! Padahal Golkar yang mengklaim partai demokratis dan modern. Ternyata hanya retorika atau slogan,” cetusnya.
Menjelang pelaksanaan Musda ini, sempat empat muncul empat nama kandidat Ketua DPD Partai Golkar Jatim, diantaranya Gatot Sudjito (anggota Komisi V DPR RI, Sarmuji (anggota Komisi XI DPR RI), Sahat Tua Simanjuntak (DPRD Jatim) dan Mayjen TNI (Purn) Istu Hari Subagio (DPRD Jatim).
Sebelumnya, politisi senior Partai Golkar, Martono berharap Musyawarah Daerah (Musda) X DPD Partai Golkar Jawa Timur yang digelar di Surabaya Kamis 5-6 Maret 2020 menjadi ajang kompetisi bagi para kandidat calon ketua. Sebab di era ini, Golkar sebagai partai terbuka harus bisa menjawab tantangan dan tuntutan jaman.
Ia menyampaikan tiga hal yang perlu di tekankan dalam Musda untuk menata organisasi, yaitu konsolidasi ideal, konsolidasi wawasan dan konsolidasi organisasi.

“Semuanya kandidat bagus. Pak Gatot, Pak Isnu juga mumpuni. Karena itu siapapun yang menjadi ketua harus bisa memahami dan melaksanakan tiga hal untuk menata organisasi ke depan, yaitu konsolidasi ideal, konsolidasi wawasan dan konsolidasi organisasi,” katanya kepada lensaindonesia.com, Rabu (04/03/2020).

Menurut Martono, konsolidasi ideal adalah bagaimana Golkar bisa hadir dan menjawab tuntutan dan permasalahan seluruh masyarakat. Sedangkan konsolidasi wawasan yaitu membawa partai ini mengikuti era, sehingga harus bisa mengikuti perkembangan politik dan teknologi 4.0. “Nah siapa (kandidat) yang bisa menjawab tantangan ini?” katanya.

Yang terakhir, lanjut Martono, adalah konsolidasi organisasi. Bila semangat konsolidasi organisasi bisa dijalankan seperti Golkar tahun 1964, maka Golkar yang memiliki doktrin karya dan kekaryaan ini akan menjadi partai yang mandiri, demokratis, solid dan modern sesuai jaman.

Terjadi atau tidaknya kompetisi  dalam pemilihan ketua DPD Golkar Jatim, lanjut Martono, terletak pada kemampuan forum Musda.
“Nah siapa (kandidat) yang bisa menjawab tantangan ini? Karena itu, biarkan mereka (kandidat) berkompetisi,” terangnya.@LI-13