LENSAINDONESIA.COM: Asosiasi PSSI Kota Surabaya menyayangkan tidak adanya suport dari pemerintah kota (Pemkot) untuk pembinaan sepakbola. Padahal banyak peraturan yang mewajibkan pemerintah daerah mendukung pembinaan sepak bola. Terbaru adalah Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Persepakbolaan Nasional.

Ketua Askot PSSI Surabaya Mauriiz Bernhard Pangkey mengatakan, adanya Inpres itu tidak membuat Pemkot Surabaya tergerak mendukung pembinaan sepakbola Kola Pahlawan. Justru Wali Kota Tri Rismaharini dan jajarannya terus cuek.

Bahkan, Liga Askot PSSI Surabaya untuk musim 2020 diselenggarakan tanpa sepeser pun bantuan dari APBD Kota Surabaya. Sehingga liga yang diikuti seluruh klub di Surabaya itu harus mandiri dengan urunan anggotanya dan sponsor. Padahal. klub-klub itu adalah tempat berlatih anak-anak dan seluruh pesepak bola usia dini yang ada di Surabaya

”Kami sudah siap untuk menggelar Liga Askot PSSI Surabaya mulai 7 Maret hingga 31 Agustus mendatang, Kegiatan ini tidak menerima APBD Kota Surabaya sepeser pun. Kami tidak tahu kenapa tidak dapat support dari Pemkot Surabaya,” kata Mauriiz di seIa-sela Match Coordination Meeting (MCM) Askot PSSI Surabaya di Kompleks Kodam V/Brawijaya, Kamis, (05/03/2020).

Mauriiz mengatakan, Askot PSSI Surabaya beranggotakan 50 klub, Nama nama seperti Supriadil Koko Ari Araya, Rizky Ridho dan banyak pemain Iain yang berlaga di sepak bola tanah air saat ini dan sebelumnya adalah pemain binaan klub klub tersebut. Supri misalnya, dari Rungkut FC yang ada di kawasan Surabaya Timur.

“Karena tidak ada dukungan pemkot, kami dari Askot bergerak kesana kemari cari sponsor. Syukurlah kami dapat dana untuk menggulirkan liga ini,” jelas Champ, sapaan Mauritz.

Kata dia, selain tidak sejalan dengan Inpres No 3 tahun 2019, kondisi di Surabaya ini juga berlawanan dengan surat edaran Mentri Dalam Negeri terkait diperbolehkannya kembali penggunaan APBD untuk membiaya cabang cabang olahraga non profesional. Surat edaran tentang peningkatan pembinaan dan pengembangan olahraga di daerah itu keluar pada 7 Februari 2017 dan sudah ditandatangani Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo.

“Kegiatan Askot PSSI Surabaya dikategorikan cabang olahraga non profesional alias amatir. Hal itu sesuai dengan pasal 1 angka 15 UU Sistem Keolahragaan Nasional yang mendeflnisikan cabang olahraga profesional sebagai olahraga yang dilakukan untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk uang atau bentuk lain yang didasarkan atas kemahiran berolahraga,” terangnya.

Liga Askot PSSI Surabaya sendiri digelar dalam tiga kategori usia, Yakni U-13 yang diikuti 30 klub, kemudian sebanyak 29 klub ambil bagian di kategori U15, Dan kategori U 17 yang diramaikan 23 klub, Adapun penandingan akan di gelar di beberapa tempat, diantaranya Lapangan Putra Pors, Lapangan Jelidro, Lapangan Poral, serta Stadion Kodam V/Brawijaya.

Sikap Pemkot Surabaya kepada Askot PSSI itu menambah panjang daftar perlakuan tidak baik mereka ke pada pembinaan sepak bola. Mei tahun Ialu, Pemkot mengusir Persebaya amatir dari Wisma Persebaya yang ada di jalan Karanggayam. Karena peristiwa itu, kompetisi internal Persebaya yang sudah berjalan di sana puluhan tahun. kini harus berpindah pindah dari satu lapangan ke lapangan lain.

Pengusiran itu berujung pada gugatan PT Persebaya Indonesia ke pengadilan. Persebaya yang sudah menempati dan memanfaatkan bangunan serta tanah itu puluhan tahun, merasa sebagai pemilik sah. Gugatan tersebut akan diputuskan dalam sidang putusan pada 10 Maret 2020 nanti.@fredy