LENSAINDONESIA.COM: Catatan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di tahun 2019 memaparkan, produk asuransi syariah masih minim. Bahkan, Indeks literasi asuransi syariah di Indonesia hanya mencapai 2,51% dan inklusi asuransi syariah hanya 1,9%.

Untuk itu, PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) meluncurkan asuransi jiwa syariah PRUCinta sebagai metode pengelola kesejahteraan masyarakat dengan klaim kematian dengan nilai maksimal.

Head of Sharia Business Prudential Indonesia, Ari Purnomo memaparkan, produk PRUCinta merupakan bentuk ekspansi protofolio Prudential Indonesia dalam bentuk perlindungan berbasis syari‘ah.

“Produk ini sebagai bentuk warisan cinta nasabah kepada orang-orang terkasih, sebab hanya cinta membuat hidup selamanya,” tandas Ari di sela Press Conference di Surabaya, Rabu (11/03/2020).

Ia menambahkan, di tengah rendahnya indeks literasi dan inklusi asuransi syariah, pihaknya justru mengembangkan PRUCinta guna memenuhi kebutuhan keluarga terhadap asuransi tradisional berbasis syariah dengan penawaran lebih menarik.

“PRUCinta mengusung manfaat santunan meninggal dunia dari Dana Tabarru selama 20 tahun dengan pembayaran kontribusi selama 10 tahun. Selain itu, juga memberlakukan jatuh tempo berupa nilai tunai dari Dana Nilai Tunai setara 100% kontribusi yang dibayarkan jika tidak ada klaim selama keikutsertaan,” terang Ari.

Hal senada juga diungkapkan Head of Product Development Prudential Indonesia, Himawan Purnama, banyak ahli keuangan menyarankan agar setiap keluarga semestinya mengalokasikan dana darurat untuk kondisi mendesak dan tak terduga, seperti terhentinya mata pencaharian utama.

“Untuk itu, dana tersebut mudah dicairkan dan mampu mengcover, minim total pendapatan rumah tangga selama setahun,” tutur Himawan.

Namun faktanya, Data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mecatat bahwa pada tahun 2019, tingkat penetrasi asuransi jiwa di Indonesia baru mencapai 1,2% dibanding total Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut masih dibawah negara-negara Asia lain seperti Korea Selatan (8,40%), Jepang (6,2%), dan Tiongkok (2,8%).

Sedangkan pengetahuan pengelolaan keuangan masyarakat Indonesia, terutama pada produk-produk asuransi syariah juga masih minim. AAJI mencatat ada 17,8 juta peserta asuransi jiwa individu, namun hanya 1,3 juta jiwa mengantongi polis berbasis syariah.@Eld-Licom