LENSAINDONESIA.COM: Minimalisir tumpahan minyak di area tambang, PT Pertamina EP Asset 4 bersama 13 Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara berlakukan Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan Tumpahan Minyak.

Langkah tersebut sebagai antisipasi terjadinya tumpahan minyak di sekitar tambang khususnya di wilayah lepas pantai (offshore).

Deputi Operasi SKK Migas, Julius Wiratno mengatakan, target produksi sesuai target pemerintah dan SKK Migas mencapai produksi minyak 1 juta BOPD di 2030 diharapkan tak mengabaikan aspek Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lindungan Lingkungan (K3LL).

“SKK Migas telah merumuskan protap agar potensi risiko kecelakaan kerja bisa dihindari dan diminimalkan dampaknya,” tandas Julius dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/03/2020).

Sementara itu, Asset 4 General Manager PT Pertamina EP, Agus Amperianto juga menyebutkan kondisi area kerja Asset 4 beroperasi di laut, Protap ini diperlukan jika terjadi operation failure di laut, sebagai KKKS harus paham untuk mengantisipasi.

“Di area kami, ada Poleng Field yang 90% area operasinya di laut. Penunjang produksi dari Poleng Field untuk Minyak sebesar 2.754 BOPD atau 102,85% dari target dan Gas 4.050 MMscfd atau 101.08% dari target diperoleh dari Platform BW, CW, dan DW dengan 9 sumur produksi di laut Jawa. Untuk itu, kami rasa Protap ini sangat penting. Sebab kami bisa berkordinasi dengan KKKS dan lainnya lebih praktis”, papar Agus.

Ia menambahkan kondisi migas global sedang turun, maka sinergi antara SKKMigas dan KKKS serta instansi lain menjadi upaya agar industri hulu migas di Indonesia bisa survive dan berkontribusi maksimal untuk perekonomian negara.

“Kadar resiko operasi di laut itu tinggi, sehingga jika terjadi hal diluar kendali maka sekali lagi adanya Protap ini jadi solusi yang baik dan hemat biaya ,” tutur Agus.@Eld-Licom