LENSAINDONESIA.COM: Raja Belanda Willem Alexander bersama Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti datang ke tanah Batak di Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Kamis (12/03/2020). Kehadiran Raja Belanda dan Ratu Maxima ini disambut ramah warga.

Malahan, ketika Raja dan Ratu Belanda ini berkunjung ke Desa Siambat Dalan, yang pernah diserbu dan dibakar pasukan Belanda di masa penjajahan, nyatanya warga tetap bersikap ramah dan amat menghormati.

Desa ini berjarak sekitar 1 Km dari lokasi Bukit Singolom, tempat Raja dan Ratu Belanda itu melakukan sesi foto saat menginjak Tanah Toba. Warga pun menyambut dengan tradisi Beras Sipir ni tondi. Bahkan, keduanya juga diulosi.

Kedatangan pasangan Raja Belanda di tanah Batak ini setelah Rabu (11/03/2020), berkunjung di Istana Bogor dan disambut Presiden Joko Widodo.

Pertemuan dengan Presiden Jokowi itu dimanfaatkan Raja Willem untuk mengembalikan keris milik Pangeran Diponegoro yang di zaman penjajahan Belanda sempat dibawa ke Negeri Belanda. Pengembalian keris pusaka itu pun diterima langsung oleh Presiden Jokowi.

Di antara para pegiat Tanah Batak Toba menyikapi kehadiran Raja dan Ratu Belanda ini, berharap seharusnya juga dijadikan momentum mengembalikan pustaha 24 jilid karya Sisingamaraja XI yang masih disipan di Perpustakaan Leiden, Belanda.

Menurut Hojot Marluga, kesaksian semasa hidup Raja Napatar Sinambela, cucu Sisingamangaraja XII dari keturunan istri kelima, mengungkapkan pustaha itu diwariskan dinasti Sisingamangaraja. Namun di zaman penjajahan Belanda, pustaha 24 jilid itu diboyong ke Belanda. Bahkan, kesaksian Raja Napatar Sinambela melihat sendiri disimpan di perpustakaan Belanda.

Menurutnya, waktu itu, Sisingamamgaraja XI-lah yang menulis “pustaha kerajaan,” setebal 24 jilid itu. Pasukan Belanda memboyong ke Belanda di era Perang Batak selama 30 tahun, 1877-1907.

Sebenarnya keluarga keturunan Sisingamangaraja pernah meminta ke 24 jilid buku itu. Namun, menurut kesaksian Raja Napatar, pihak Belanda waktu itu beralasan syarat dikembalikan di Tanah Batak kalau di Istana Bakara ada gedung berasilitas AC yang cukup.

Saat itu, oleh karena belum ada kemampuan dari keluarga keturunan, maka keinginan pun terkatung-katung. Tentu, semestinya tidak sulit jika hanya gedung ber-AC itu alasannya. Namun disayangkan, akhirnya pustaka Batak itu tidak turut dikembalikan bersama keris Pangeran Diponegoro.

Keluarga keturunan Sisingamangaraja XII meyakini jika 24 jilid pustaha Batak ada, sudah pasti banyak yang bisa diungkap sejarah tentang Tanah Batak, utamanya dinasti Sisingamangaraja.

Sejarah kelam masyarakat adat Batak Toba dengan Belanda, tentu bukan hanya dijajah. Disebut-sebut, tidak sedikit peninggalan sejarah juga dirampas di era penjajahan. Karenanya, kepercayaan diri bangsa ini harus pulih, bahwa bangsa ini tidak boleh lagi terjajah.

Selama ini, narasi sejarah dibangun bahwa Belanda menjajah Indonesia selama tiga setengah abad. Narasi itu ditulis dalam buku G.J. Resink, lewat kumpulan tulisannya.

Namun, dalam pustaha 24 Jilid diharapkan dapat mengungkap kebenaran sejarah bahwa sejak dulu, orang Batak tidak pernah tunduk kepada Belanda, walau diperangi tiga dekade. @jrk