LENSAINDONESIA.COM: Tenaga medis sebagai pasukan garda depan menghadapi wabah pemusnah massal Covid-19 di tanah air, diprediksi masih akan terus butuh APD (Alat Pelindung Diri). Ini demi menyelamatkan tenaga medis dari resiko terus berjatuhan –meninggal– akibat ikut tertular positip virus Corona.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dari kaca mata keuangan negara pun memprediksi perekonomian negara akan mengalami dinamika keras lantaran hingga Mei 2020, masyarakat di Indonesia yang terpapar Covid-19 mencapai 85.000 orang. Jika prediksi Menkeu tidak meleset, praktis hanya untuk APD saja, APBN harus mengucurkan anggaran pembelian APD khusus pasien riil terpapar bisa hampir satu juta unit APB. Ini lantaran setiap orang yang terpapar Covid-19 untuk penanganan tim medis –mulai tenaga perawat hingga dokter– butuh 10 APD.

Jumlah kebutuhan APD bisa berkali lipat, lantaran pemerintah memberikan fasilitas ini tak ubahnya perlengkapan
utama “perang” melawan wabah Virus Corona bagi tenaga medis di semua rumah sakit –yang ditentukan– tersebar di daerah-daerah. Termasuk, tenaga medis di tingkat Puskemas.

Pendiri “Energy Kita Foundation”, Satrio Wibowo yang entrepreneur muda asal Jakarta, bersama timnya sejak tim medis di tanah air menangani wabah Covid-19, mengaku sebagai pelopor pengadaan APD berstandar WHO, pihaknya akan terus “all out” memberdayakan tenaga kerja lokal untuk pengadaan APD yang berlisensi dengan bahan dari impor.

“Sebagai anak muda, kami terpanggil melihat wabah pandemi global Covid-19 ini. Kami bersyukur ada dukungan dari bapak-bapak penentu kebijakan. Sehingga, kami bisa segera membekali tenaga medis kita dengan APD yang standar WHO, karena banyak negara di dunia juga krisis APD standar WHO,” kata Satrio.

“Tapi, kami juga menyelamatkan keuangan negara tidak tersedot ke luar negeri, akibat harus melakukan impor APD. Energy Kita Foundation satu-satunya di Indonesia yang produksi APD berstandar WHO, karena kami bekerjasama dengan pemilik lisensi APD itu dari negara Korea,” jelas Satrio.

Kini, Satrio mengaku bersama timnya “Energy Kita Foundation”, tertantang untuk bisa segera menyelamatkan bangsa Indonesia dari pandemi Covid-19. “Bangsa kita harus kuat menghadapi serangan virus ini. Alhamdulillah, hasil riset tim saya menemukan solusi Selenium Water untuk menghadapi virus Covid-19,” imbuhnya.

Satrio meyakini Seleniun Water temuan timnya tidak hanya dapat menyelamatkan bangsa Indonesia dari ancaman wabah Covid-19 yang memporandakan seluruh sendi kehidupan, termasuk perekonomian. Tapi, juga warga di negara-negara dunia yang kini dilanda kecemasan dan ketakutan. Karena itu, pihaknya akan memproduksi besar-besaran.

Menurut Satrio, tekadnya ini agar nasib bangsa Indonesia tidak bergantung kepada asing seperti Bill Gates, pendiri Microsoft yang mengumumkan membangun 7 pabrik untuk produksi vaksin Virus Corona. Karena dengan harus menunggu lama, praktis dampak buruk yang dialami masyarakat maupun negara akan semakin parah.

“Alhamdulillah, uji coba terhadap dua pasien positip Covid-19, setelah mengonsumsi air silenium, hasil swab 2 dan 3 dinyatakan negatif. Mohon doanya masyarakat Indonesia, supaya Allah memberi keridlo’an hingga kami dilancarkan memproduksi besar-besaran air selenium ini. Air berkah dari Tuhan ini sangat ampuh menangkal virus pendemi global, yang semakin melumpuhkan dan menyengsarakan bangsa kita maupun negara-negara di dunia,” kata Satrio Wibowo.

Satrio meyakini wabah pandemi global ini berindikasi sebagai ‘peperangan’ puncak revolusi Industri 4.0. Artinya, warga dunia dipaksa secara masif dan total memasuki peradaban Industri 4.0 , tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik untuk menghasilkan pabrik cerdas. Sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif.

“Saya berkeyakinan apabila didukung semua pihak sebagai ujud nasionalisme, cinta NKRI, saya dengan Selenium Water ini akan memenangkan peperangan ini. Kita akan menjadi pemenang memasuki era Industri 5.0. Salah satunya, semua orang di dunia menggantikan kerja di kantor dengan kerja di rumah. Training massal sudah terjadi selama lock down, atau karantina wilayah, atau PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar),” ungkap Satrio.

“Hasilnya, low cost dan high product. Cost operasional kantor dihapus. Begitu pula lainnya. Semua nanti bisa dilakukan dengan sistem siber, komputasi awan. Pak Presiden Jokowi pun rapat kabinet tidak perlu lagi mengumpulkan para menteri di Istana. Cukup melakukan telekonferensi,” ungkap Satrio.

Gerakan Satrio bersama timnya di “Energy Kita Foundation” diyakini mampu tangguh lantaran didukung sepenuhnya mantan Menteri Kesehatan Dr dr Siti Fadilah Supari, Sp(Jp)K yang penah sukses menangani wabah virus flu Burung yang merupakan pandemi global dan juga melanda Indonesia selama eranya sebagai Menteri Kesehatan (2010-2014).

Bahkan sebelum jadi Menkes, pada 2007, Siti Fadilah menulis buku berjudul “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung”, isinya tentang konspirasi Amerika Serikat termasuk dengan WHO dalam mengembangkan senjata biologis dengan menggunakan virus flu burung.

Buku ini menuai protes dari petinggi Amerika Serikat dan WHO. Diketahui, virus flu burung muncul sejak 2005. Kemudian 2007, dinyatakan menyebar di 31 provinsi dari 33 provinsi yang ada di Indonesia saat itu dan membunuh jutaan unggas sebagai komoditas sektor pertanian.

Satrio mengemukakan, hasil inovasi timnya terhadap air mengandung silenium ini tidak mungkin terjadi jika tidak ada capur tangan Tuhan menghadapi wabah Covid-19 yang membuat seluruh masyarakat di dunia ketakutan dan menderita. Di lain pihak, bigboss Microsoft Bill Gates mengumumkan mendirikan 7 pabrik untuk vaksin Virus Corona.

“Kita tidak usah menunggu pendiri Microsof Bill Gates yang akan membangun 7 pabrik vaksin yang akan dipasarkan ke seluruh dunia. Bisa dibayangkan, masyakarat kita akan lebih sengsara, korban akan terus berjatuhan, ekonomi bangsa ini akan semakin terpuruk,” kata Satrio, nada suaranya bergetar.

“Sebagai bangsa besar seperti pernah dicontohkan Proklamator Ir Soekarno, di antaranya menjadi pelopor negara-negara Asia Afrika, kita harus bangkit dengan falsafah gotongroyong yang pernah diajarkan Ir Soekarno dan para pendiri bangsa lainnya untuk melawan wabah pemusnah massal ini. Saat inilah waktu yang tepat menunjukkan rayasa nasionalisme terhadap NKRI,” tegas Satrio.

“Karena itu, doakan kami bisa lancar memproduksi besar-besaran air silenium ini,” imuh pengusaha muda, yang juga aktif dalam Ormas Kombatan (Komunitas Banteng Asli Nusantara) sebagai bendahara umum Dewan Pimpinan Nasional Kombatan.

Selenium Warter atau Air Silenium ini akan dikemas dalam botol isi 1 liter dan mini galon isi 5 liter. Sesuai hasil riset tim ahli “Energi Kita Foundation, dengan mengonsumsi rutin minimal 5 liter air ini, efeknya dapat meningkatkan atau membentuk daya tahan tubuh yang tidak akan dapat dilemahkan virus Corona. @jrk