LENSAINDONESIA.COM: Massa Serikat Pekerja Perkapalan Jasa Maritim dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPPJ-FSPMI) Jawa Timur akan menggelar aksi unjuk rasa menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law.

Sekretaris Jenderal SPPMJ FSPMI Jatim SA Saputro alias Pokemon mengatakan, unjuk rasa tersebut digelar pada 30 April menjelang peringatan MayDay.

“Iya sesuai intruksi dari penghrus pusat, saat ini kami sedang melakukan rapat terkait aksi 30 April 2020 nanti,” kata Pokemon saat dikonfirmasi dihubungi lensaindonesia.com, Minggu (12/04/2020).

Pokemon menyampaikan, pihaknya menolak sepenuhnya RUU Omnibus Law karena sangat merugikan buruh. “Bukan hanya buruh atau pekerja formal saja yang dirugikan bila RUU Omnibus Law disahkan, tapi semua sektor juga dirugikan,” jelasnya.

Mengenai adanya larangan melakukan kegiatan bersama orang berjunlah banyak yang menciptakan kerumunan untuk mencegah wabah virus Corona (COVID-19) berdasarkan Maklumat Kapolri nomor Mak/2/III/2020, Pokemon tetap menyatakan akan mengajak massanya turun jalan.

“Kalau kita memang sama-sama mematuhi maklumat Kapolri, seharusnya mereka (DPR RI) memberikan contoh terlebih dahulu, yaitu jangan sampai membahas RUU yang hanya menguntungkan kepada pengusaha saja,” ujarnya.

Disinggung apakah tidak takut ditangkap bila tetap bersikukuh melakukan aksi unjuk rasa, mengingat disana akan terjadi penumpukan massa dan rentan akan penyebaran COVID -19, aktivis yang kerap membela masyarakat pinggiran ini pun menyatakan “tidak”.

“Kenapa harus takut, kami memperjuangkan kesejahteraan buruh, kalaupun ditangkap, bukannya kita punya Menkumham yang baik hati, yang telah membebaskan 30 napi, nanti kita pasti dibebaskan juga,” ujarnya sambil tertawa.

Selain menolak RUU Omnibus Law, Pokemon juga menolak para pengusaha yang meminta kepada pemerintah untuk tidak membayar tunjangan hari raya (THR) dan angsuran BPJS Kesehatan serta ketenaga kerjaan.

“Terkait Apindo yang berencana tidak memberikan THR serta menunda pembayaran BPJS ketenaga kerjaa dan kesehatan dengan dalih merugi karena adanya COVID -19, tentunya kami akan melawan,” tegasnya.

“Selama ini, perusahaan itu tidak ada  yang namanya merugi karena selama setiap bulan selalu menaikan target sebesar 20 persen. Jangan karena COVID -19 dijadikan alasan dan mencari keuntungan dengan mengorbankan Para pekerja,” pungkasnya.@rofik