LENSAINDONESIA.COM: Keluarga korban kasus pencabulan di tengah suasana pandemi Covid-19 merasa lega. Ini lantaran penyidik Polres Metro Bekasi, akhirnya mengubah pasal pidana yang dijeratkan terhadap pelaku. Semula tersangka dikenakan pasal asusila, namun kini diganti pasal pidana pencabulan, Pasal 289 KUHP yang ancaman hukumannya 9 tahun.

Tersangka pelaku, Gim (50) pria beristri dan pemilik rumah kontrakan yang dihuni korban, sebut Berlian (19). Pada Minggu lalu
(10/05/2020), Berlian didampingi suaminya, sebut Rama (23) melaporkan kelakuan Gimin ke Polres Metro Kota Bekasi.

Sayangnya, pada Laporan Polisi: LP/ No. 427/275-SPKT/K/V/2020/Restro Bekasi, Minggu tanggal 10 Mei 2020, tersangka Gim dikenakan oleh polisi di Polres itu, yaitu pasal 281 KUHP tentang pidana asusila. Setelah pulang ke rumah dan mendapat masukan dari para warga
yang melek hukum, korban dan suaminya yang merupakan pasangan keluarga muda itu pun keberatan atas penerapan pasal itu.

Soalnya, peristiwa yang dialami Berlian tidak ada kaitan dengan kasus pelanggaran asusila seperti kasus-kasus pidana perselingkuhan
atau praktik prostitusi. Pasalnya, tindakan pencabulan atau pelecehan seksual yang dilakukan tersangka terhadap Berlian terjadi
saat Berlian berada di dalam kamar mandi rumah kontrakannya.

“Alhamdulilah apa yang menjadi keinginan kami pasal tersebut diganti dengan pasal 289 KUHP tentang pencabulan dengan paksaan dan atau kekerasan dan atau ancaman,” kata Rama, yang sengaja mendampingi isterinya saat menanyakan pasal itu ke SPKT (Sentra Pelayanan
Kepolisian Terpadu) Polrestro Bekasi pada Rabu (14/05/2020).

Penyidik mengabulkan permintaan Berlian untuk mengganti pasal yang dijeratkan terhadap Gim, yaitu menjadi pasal 289 KUHP dengan ancaman penjara 9 tahun.

BERLIAN TRAUMA
Pasca peristiwa pencabulan menimpa Berlian, kini korban masih diliputi trauma untuk pulang ke kontrakannya. Berlian dan suaminya terpaksa membiarkan kontrakannya tak dihuni lagi.

Suami korban dan warga berharap untuk memberikan efek jera pada yang lain, penyidik Polres sepatutnya segera menahan pelaku Gimin.
Apalagi, ancaman hukuman lebih 5 tahun mewajibkan status tersangka harus ditahan untuk memudahkan proses penyidikan.

“Kami mengharapkan polisi segera memanggil pelaku dan ditahan segera,” kata suami korban, geram.

Kronologis peristiwa yang menimpa Berlian, tersangka melakukan pelecehan terhadap korban berupa pemaksaan pemuasan birahi prianya tanpa peduli suasana prihatin pandemi Virus Corona maupun puasa Ramadan.

Korban mengaku saat di kamar mandi, mendadak pelaku masuk dan memeluk dirinya dari belakang. Payudara Berlian pun diremas, pelaku
berupaya mencium. Kejadian di rumah kontrakannya di Kampung Kapling, RT 006/RW 001, Desa Karang Baru, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi itu berlangsung sekitar pukul 09:00 Wib pada Sabtu (9/5/2020).

Saat kejadian, Rama suami korban tidak berada di rumah. Rupanya, Rama mampu tidak bertindak emosional begitu menerima pengaduan
isterinya diperlakukan tidak senonoh. Pelaku saat berbuat tak senonoh diakui Berlian sempat melontarkan kalimat ‘gombal’, “Bapak sayang Eneng,” katanya ditirukan Berlian.

Penyidik merevisi pasal 281 KUHP menjadi pasal 289 KUHP ini sealur dengan kritikan Pengacara Ibukota, Julianta Sembiring. Pengacara ini mengritisi keras, menyatakan ancaman pasal sebelumnya yang disematkan polisi terhadap pelaku, yaitu pasal 281 KUHP dianggap sudah salah jalur.

Sebab, kata dia, aksi yang dilakukan pria berusia 50 tahun  terhadap korbannya itu masuk kategori perbuatan cabul dan pelecehan seksual.

“Tidak tepat kalau pasal yang diberikan itu 281, karena ini bukan kesusilaan melainkan pelecehan seksual. Dasar perbuatan yang
dilakukan sudah jelas meremas payudara korban dan menciumnya di kontrakan tak berpenghuni. Ini sudah mengarah pada penyerangan
kehormatan kesusilaan,” ucapnya pada wartawan.

Julianta mengatakan, pasal yang pantas dijerat kepada Gimin tersebut adalah Pasal 289 KUHP tentang pencabulan atau pelecehan seksual, dalam pasal itu berbunyi: “Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan kepada seseorang melakukan perbuatan cabul,
dihukum karena merusakkan kesopanan, dengan hukuman penjara selama sembilan tahun”.

“Ini yang tepat dikenakan kepada pelaku seperti Gimin. Karena perbuatannya itu sudah merusak kesopanan dan harga diri korban yang
merupakan seorang wanita. Polisi juga tidak boleh memberikan penangguhan penahan kepada pelaku, karena ini sangat berbahaya bagi
masyarakat dan membuat trauma bagi korban,” paparnya. @sofie