LENSAINDONESIA.COM: Kemenkes melakukan pengurangan harga untuk pengadaan APD (Alat Pelindung Diri) berstandar WHO secara nasional bagi tenaga medis yang bergerak di garda terdepan melawan pandemi Covid-19 dari per unit Rp 366.650 menjadi Rp 294 ribu (belum PPN). Praktis, diharapkan tidak berdampak pada menurunnya kualitas APD yang sudah ditentukan WHO.

Penurunan harga APD standar WHO itu dari informasi yang diterima LensaIndonesia.com, ditetapkan sejak 7 Mei 2020. Pengurangan harga itu diberlakukan untuk pengadaan sekitar 4 juta APD dari 5 juta APD yang ditargetkan pemerintah.

Sedangkan 1 juta APD yang sudah direalisasikan telah diberlakukan harga US $44 dan Rp 366.650,-.

Banyak pihak mengritisi, adanya penurunan harga pengadaan APD ini jangan sampai mengurangi kualitas yang sudah ditetapkan WHO. Apabila sampai terjadi pengurangan kualitas, dampaknya sangat membahayakan nasib tenaga medis.

“Kalau harga diturunkan berdasarkan pertimbangan efisiensi anggaran yang dikeluarkan pemerintah, kebijakan itu sangat bisa diterima. Perlu diingatkan, pemerintah harus menjamin kualitas APD tidak turun, karena pengurangan harga lebih 25 persen,” kata Koordinator Jaringan Milenial Anti Korupsi (Jarmako) peduli penanganan Covid-19, M Afandi, menanggapi kebijakan Kemenkes itu.

“Jika kualitas sampai turun, dampaknya bisa sangat membahayakan keselamatan tenaga medis. Apalagi, penanganan Covid-19 di tanah air belum bisa diprediksi secara pasti sampai kapan akan berakhir,” imbuhnya.

Diketahui, produsen dalam negeri yang ditunjuk pemerintah sejak awal penanganan wabah Covid-19 di tanah air adalah perusahaan yang dikelola para pengusaha muda, yaitu PT Permana Putra Mandiri (PPM) dan PT Energi Kita Indonesia (EKI) .

Mereka itu satu-satunya di Indonesia yang memegang lisensi produsen APD berstandar internasional sesuai ketetapan WHO dari Korea dengan merk “Boho” .

Direktur PT Energi Indonesia Kita, Satrio Wibowo dihubungi LensaIndonesia.com, mengakui adanya ketetapan penurunan harga baru untuk APD standar WHO yang diproduksi perusahaannya. Dirinya tidak bisa berbuat banyak menghadapi kebijakan itu.

“Dibilang sangat terpukul, tentu terpukul. Apalagi, sudah terlanjur investasi sangat besar dengan ribuan tenaga kerja, dan menggunakan bahan baku memenuhi standar WHO yang harus impor. Juga tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan merek APD internasional ‘Boho’ yang berstandar WHO asal Korea,” ujar Satrio Wibowo, pengusaha milenial baru menginjak usia 35-an tahun.

Menurut Satrio, dirinya tidak menyangka semangat sebagai pengusaha milenial yang mampu membidik peluang menjadi produsen APD dalam negeri berstandar WHO saat jauh hari sebelum Covid-19 menimpa tanah air, berlanjut menyulitkan geraknya.

“Saya menyadari resiko jadi pelopor APD produksi dalam negeri berstandar WHO, tidak sedikit yang ingin menjatuhkan. Sebagai pengusaha milenal yang bersemangat maju, lantas ada yang mendzalimi, ya memang itu resiko,” kata Satrio.

Soal apakah turunnya harga berpengaruh terhadap kualitas APD, Satrio yang pernah maju jadi Caleg DPRD DKI dari F-PDIP pada Pemilu 2019, namun belum beruntung ini, mengaku harus memeras otak untuk tetap menjaga kualitas stadar APD.

“Sejak awal, saya sudah bertekad untuk ikut membela bangsa dan Negara melawan pandemic Covid-19. Walaupun margin jauh dari kepatutan, saya akan berupaya keras mempertahankan kualitas,” pungkasnya. @jrk