LENSAINDONESIA.COM: Upaya pemerintah melakukan pemenuhan kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) berstandar WHO untuk menjaga keselamatan tenaga medis yang berjuang menangani pasien terdampak Covid-19, ternyata ada saja oknum-oknum di jajaran Kemenkes yang tidak bertindak cekatan. Akibatnya, pemenuhan kebutuhan APD standar WHO di lapangan belum optimal.

Banyak pihak mengeluhkan distribusi APD itu terkadang masih mengalami kendala untuk bisa tersebar secara cepat ke titik-titik sasaran.

Keterangan yang dihimpun LensaIndonesia.com, menyebutkan kelambanan distribusi APD bukan lantaran pemerintah kekurangan stok APD. Hal itu dibuktikan stok APD standar WHO yang oleh pemerintah disiapkan dari hasil produksi dalam negeri mencapai angka 5 juta APD.

Bahkan, Menteri Kesehatan sudah mempercayakan penyediaan kebutuhan 5 juta stok APD itu kepada produsen dalam negeri yang mampu memproduksi APD berkualitas standar WHO secara cepat. Yaitu, PT Permana Putra Mandiri (PPM) dan PT Energi Kita Indonesia (EKI) yang pengelolanya dari kalangan penguasaha muda. Produsen ini satu-satunya yang dipercaya pemegang lisensi produsen APD berstandar internasional ketetapan WHO dengan merk “Boho”.

Jumlah stok itu dinilai lebih dari cukup untuk skala memenuhi kebutuhan tenaga medis dalam tahap awal.

Kurang mulusnya proses distribusi itu, pantauan LensaIndonesia.com, terbukti di tempat penyimpanannya di Gudang Halim di wilayah Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, sempat menumpuk 127.500 set APD pada pekan lalu.

Padahal, informasi yang diterima LensaIndonesia.com, APD itu seharusnya sudah didistribusikan untuk memenuhi target penyebaran 1 juta APD untuk tahap awal.

Lantaran APD masih menumpuk di Gudang Halim, praktis gudang berkapasitas 200.000 pc saat itu sempat tidak bisa menampung pasokan APD baru. Sementara, truk-truk yang mengakut APD baru sempat antre di luar gudang.

Koordinator Jaringan Milenial Anti Korupsi (Jarmako) peduli penanganan Covid-19, M Afandi mengritisi pengadaan APD yang masih ada kendala di lapangan, pihaknya mengimbau pemerintah agar melakukan pengawasan lebih ketat.

“Jangan sampai ada oknum-oknum yang mencoba menyelam sambil minum air mencari cela untuk korup. APD sebagai alat perlengkapan perang utama bagi tenaga medis melawan pandemi Covid-19 ini sangat menentukan berhasil tidaknya percepatan penanganan wabah Covid-19. Kalau sampai terhambat, membahayakan,” kata Afandi. @licom_09