LENSAINDONESIA.COM: Pemerintah Provinsi Jawa Timur akhirnya mengizinkan kegiatan berjamaah di masjid jelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 2020/1441 di tengah masa pandemi Covid-19.

Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono mengaku telah mengeluarkan surat imbauan terkait pelaksanaan takbir dan salat id di Masjid Al-Akbar Surabaya.

Heru menegaskan meskipun salat id berjamaah diizinkan, namun para jamaah harus mengikuti protokol kesehatan Covid-19 yang sudah diatur dan ditentukan persyaratan dan kesiapan masjid terbesar di Jawa Timur tersebut.

Surat imbauan bernomor 551/7809/012/2020 yang berisi tentang aturan Kaifiat Takbir dan Salat Idul Fitri itu sempat beredar melalui media sosial.
Surat tersebut ditandatangani oleh Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono.

Menurutnya, kebijakan memperbolehkan masjid untuk menggelar ibadah salat berjamaah itu masukan dari sejumlah tokoh agama kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

“Ini adalah melihat ada beberapa tokoh agama, kelompok agama yang menghadap ke Ibu Gubernur, dan kami mendapatkan beberapa masukan,” katanya, Sabtu (16/05/2020).

Selain masukan, kebijakan itu juga diambil setelah pihaknya memperhatikan Fatwa MUI Nomor 28 tahun 2020, tanggal 13 Mei 2020, tentang panduan Kaifiat Takbir dan Salat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19.

Beberapa protokol yang harus diterapkan pengelola masjid.

Pertama, pengaturan alur masuk masjid. Lalu saf salat yang akan diberi jarak 1-2 meter. Deretan jemaah saat salat pun akan diatur zigzag, agar lebih renggang.

“Contohnya Masjid Al-Akbar, jadi mulai masuk sudah dipisah, antrenya diarahkan, setelah itu jaraknya 1-2 meter. Saya sudah diskusi dengan ahli ini nanti akan kita ubah safnya menjadi zigzag,” imbuh Heru.

Kemudian, alas kaki atau sandal para jamaah juga harus dibawa masuk ke dalam masjid dengan kantong kresek. Hal itu dilakukan untuk menghindari kerumunan jemaah saat mengambil sendal usai salat.

“Sandal tidak boleh ditinggal diluar harus dibawa masuk karena proses pengambilan pada saat selesai salat itulah yang mulai berjubel. Jadi kita sudah siapkan kreseknya, sandalnya dibawa masuk, pulangnya juga diarahkan ada pembatasnya jadi langsung pulang,” tegas dia.

Tak hanya itu, pemberian jarak juga dilakukan di tempat wudu. Jika biasanya jemaah berjejer, maka kini dibatasi antara pancuran satu dengan yang lain. Hal itu untuk menghindari percikan air.

Kemudian, pihaknya juga meminta agar imam masjid mempersingkat waktu bacaan salat dan memperpendek khotbah agar tak memakan waktu yang lama.

“Terus khotbahnya juga tidak boleh terlalu panjang, jadi itulah yang harus dilakukan,” cetus mantan Kadis Kelautan dan Perikanan Jatim ini.

Lainnya, yakni protokol kesehatan lainnya seperti pemakaian masker, cuci tangan, pengecekan suhu badan juga harus tetap dilakukan.

Ditegaskan Heru, surat imbauan itu sendiri sementara baru ditujukan untuk Masjid Al-Akbar Surabaya.

Sementara, kebijakan untuk masjid lainnya pihaknya menyerahkan hal itu kepada pemerintah kabupaten/kota. Yang pasti protokol yang diterapkan harus sama seperti yang sudah dibuat Pemprov Jatim.@sarifa