LENSAINDONESIA.COM: Pemprov Jawa Timur yang awalnya memberikan izin lewat surat edaran Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono nomor 451/7809/012/2020 tertanggal 14 Mei 2020 tentang Imbauan Kaifiat Takbir dan Sholat Idul Fitri 1441 H di Masjid Al-Akbar Surabaya di masa pandemi COVID-19 ini, kini tidak berlaku lagi.

Pasalnya, Pemprov sempat mendapat teguran dari sejumlah pihak mulai dari IDI Jatim hingga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo atas keputusan tersebut.

Menanggapi hal itu, pihaknya telah menggelar rapat bersama dengan Biro Kessos, Biro Hukum Setdaprov Jatim dan pengurus Masjid Al-Akbar Surabaya.

“Kami telah melakukan rapat bersama Kepala Biro Kessos, Kepala Biro Hukum, Imam Besar Masjid Al-Akbar Surabaya Prof Dr KH M Ridwan Nasir, Ketua Badan Pengelola Masjid Al-Akbar Dr KH Soedjak, Bidang Tarbiyah Hasan Ubaidillah, M Koderi, KH Muhibbin Zuhri dan Humas Helmy, maka dengan hasil rapat tadi, kami mencabut surat itu,” ungkap Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (18/05/2020).

Dengan dicabutnya surat tersebut, maka pelaksanaan kegiatan Takbir dan Sholat Idul Fitri di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya dibatalkan.

“Sehubungan dengan belum menurunnya angka COVID-19 di Kota Surabaya dan menghindari terhadap pro kontra terhadap isi surat serta bias dalam implementasinya, maka surat nomor 451/7809/012/2020 tertanggal 14 Mei 2020 perihal Imbauan Kaifiat Takbir dan Sholat Idul Fitri kepada Masjid Al-Akbar Surabaya ditinjau kembali dan dinyatakan tidak berlaku,” tegasnya.

Seperti diketahui, kondisi di Surabaya ditetapkan zona merah dan masih diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap kedua di Surabaya Raya. Terlebih, pasien positif COVID-19 di Surabaya jumlahnya paling tinggi se-Jatim, dan kini sudah mencapai 1.109 pasien positif COVID-19 di Surabaya.

Sebelumnya diberitakan, Surat Sekdaprov Jatim yang membolehkan Sholat Idul Fitri di Masjid Al-Akbar Surabaya tersebar di masyarakat pada Jumat (15/05/2020) lalu.

“Surat itu disesuaikan dan memperhatikan Fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020, tanggal 13 Mei 2020 tentang Panduan Kaifiat (Tata Cara) dan Salat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19. Boleh dilaksanakan secara berjamaah asalkan tetap melaksanakan protokol kesehatan, dan tetap mencegah terjadinya penularan,” ujar Heru saat itu.

Adapun bunyi surat itu, bahwa Sholat Idul Fitri, Takbir, Tahmid, Tasbih, serta aktivitas ibadah lainnya sebagai Ibadah di Bulan Ramadan boleh dilaksanakan berjamaah dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Ada beberapa syarat yang disebutkan berkaitan pelaksanaan protokol kesehatan Salat Idul Fitri secara berjamaah di kawasan COVID-19, baik di tanah lapang, masjid, musala, rumah, atau di tempat lain.

Yakni, memperpendek bacaan salat dan pelaksanaan khutbah, melakukan cuci tangan dengan sabun serta air mengalir, menggunakan masker, pengecekan suhu badan dan pengaturan shaf serta jaga jarak 1,5 meter hingga 2 meter.

Sedangkan untuk kebijakan serupa bagi masjid/musala dan tanah lapang diserahkan kepada pemkab/pemkot masing-masing.@sarifa