LENSAINDONESIA.COM: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa angkat bicara terkait digeruduknya IGD RSUD dr Soetomo oleh puluhan pasien COVID-19 oleh Tim 112 Pemkot Surabaya.

Menurut Khofifah, meskipun RSUD dr Soetomo yang merupakan salah satu RS Rujukan COVID-19 di Jatim, namun ada aturannya ketika mengirim pasien ke RS milik Pemprov Jatim tersebut.

Khofifah menyebut setiap tim harus memiliki tata krama dan menghormati regulasi yang ada di RSUD dr Soetomo.

“Saya minta tolong masing-masing tim memahami tata krama ini. Masing-masing tim menghormati institusi yang punya regulasi. Dan regulasinya ada di peraturan Menteri Kesehatan. Regulasi bagaimana referal sistem, sistem rujukan juga ada. Sehingga tidak ngambil orang taruh sana. Ini rumah orang. Ini institusi ada yang memimpin, ini institusi punya mekanisme. Tolonglah di dalam suasana seperti ini saling menjaga dan mencari solusi,” tegasnya saat konferensi pers di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Minggu (17/08/2020) malam.

Khofifah yang juga mantan Mensos ini juga menegaskan, aturan rujukan jelas diatur dalam PP No.21 tahun 2008 terkait penyelenggaraan penanggulangan bencana, khususnya dalam Pasal 28. Ditegaskan Khofifah dalam ayat (1) dijelaskan bahwa dalam hal bencana tingkat kabupaten/kota kepala BPBD kabupaten/kota yang terkena bencana mengerahkan sumber daya manusia, peralatan dan logistik sesuai dengan kebutuhan ke lokasi bencana.

“Jadi ini adalah tanggung jawab kalau di pasal 28 dalam hal bencana tingkat kabupaten/kota kepala BPBD kabupaten/kota yang terkena bencana mengerahkan sumber daya manusia, peralatan dan logistik sesuai dengan kebutuhan ke lokasi bencana,” bebernya.

Dalam hal sumber daya manusia ini seperti tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Dalam hal SDM, peralatan dan logistik di kabupaten atau kota yang terkena bencana tidak tersedia atau tidak memadai maka dapat minta bantuan kepada kabupaten /kota lainnya terdekat baik dalam satu wilayah provinsi maupun provinsi yang lain.

“Ketika pemkab/pemkot yang minta bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menanggung biaya pengerahan dan mobilisasi SDM, peralatan dan logistik ke kota yang lain yang mengirimkan bantuan. Lah kalau ini menaruh di RS (RSUD dr Soetomo) kemudian ditinggal. Saya ingin mengajak kita semua punya tugas perlindungan terhadap nyawa dan jiwa dari warga dimana kita mendapatkan mandat,” tegas Khofifah.

Gubernur juga meminta bagi pemkab/pemkot yang tidak mengetahui aturan tersebut, mulai sekarang sudah mau membaca dan memahami dengan baik.

“Jadi saya minta tolong masing-masing kemudian menyadari kalau belum tahu aturan ini, mudah-mudahan sekarang sudah mau membaca PP No. 21 tahun 2008 tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana,” tuturnya.

Ditambahkan Khofifah, pada ayat (4) dalam hal SDM, peralatan dan logistik kabupaten/kota lainnya sebagaimana dimaksud pada surat tidak tersedia tidak memadai pemkab/pemkot yang terkena bencana dapat minta bantuan pada pemerintah provinsi yang bersangkutan.

“Kalau kita bukan diminta, kita dari awal sudah mensupport. Jadi di ayat (4) memang tidak memungkinkan maka bisa minta bantuan kepada Pemprov. Kalau ini enggak pakai minta. Kita sudah support dari awal. Oleh karena itu saya ingin mengajak kita semua semuanya mari kita menjaga tata krama kehidupan itu menjadi penting bagi kita semua dalam suasana seperti sekarang ini,” tandas dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Instalsi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Soetomo dari Sabtu 16 Mei 2020 malam hingga Minggu 17 Mei 2020 pagi tadi ‘digeruduk’ puluhan pasien COVID-19 dari Kota Surabaya.

Direktur Utama RSUD dr Soetomo Surabaya dr Joni Wahyuhadi pengiriman terjadi tanpa ada koordinasi apapun dengan sang pengirim pasien, yang disebut berasal dari Command Center 112 Kota Surabaya.

“Ada fenomena tentang sistem rujukan. Di Soetomo sejak tadi malam, saya tahu persis kedatangan pasien-pasien dengan COVID-19. Sampai tadi pagi itu tersisa di UGD 34-35 pasien. Mereka ada yang datang sendiri, tapi sebagian dibawa oleh tim 112 KMS (Kota Madya Surabaya). Mereka ini tidak ada komunikasi dulu call center di Soetomo, sehingga pasiennya dibawa begitu saja kemudian ditaruh di UGD, terus ditinggal. Seperti itu menyebabkan petugas kerepotan menempatkan dimana agar tidak menular,” ungkap Joni di Gedung Grahadi Surabaya, Minggu malam.

Hal inilah yang membuat pihak RSUD dr Soetomo sempat kewalahan menangani pasien sebab banyak ruangan penuh. Sehingga pasien akut non COVID-19 sementara dievakuasi ke ruangan lain agar tak tertular dengan pasien COVID-19.@sarifa