LENSAINDONESIA.COM: Siapa menyangka nama besar sang Proklamator yang juga Presiden RI pertama Ir Soekarno –lebih suka dipanggil Bung Karno— ternyata pernah mengalami tidak memiliki uang sepeser pun saat menjelang lebaran. Fakta pilu “bapak pendiri bangsa’ yang di kalangan umat Islam dunia dikenal sebagai penyelamat makam ahli hadits, Imam Bukhari di Desa Hartang –25 Km dari Samarkand– ini terungkap di buku “Suka duka Fatmawati Sukarno” seperti diceritakan kepada Adjat Adra’I (Penerbit: Yayasan Bung Karno, 2008).

Ringkasnya, menjelang Lebaran, Bung Karno menemui mantan Menteri Luar Negeri DR. Roeslan Abdoelgani untuk dicarikan uang….

Cak, tilpuno Anang Thayib. Kondo’o nék aku gak duwé dhuwik,” kata Proklamator Kemerdekaan RI tersebut…. ( Cak, teleponkan Anang Thayib. Beritahu kalau aku tak punya uang….)

Anang adalah keponakan Roeslan, tinggal di Gresik, Jawa Timur. Dia seorang Pengusaha Peci (kopiyah ) merek Kuda Mas yang selalu dikenakan Ir Soekarno.

“Beri aku satu peci bekasmu. Saya akan lelang,” kata Roeslan Abdoelgani, yang asli arek Suroboyo, lahir 24 November 1914 ini.

“Bisa laku berapa, Cak..?” tanya Bung Karno.

Wis ta laa , serahno aé soal iku nang aku. Sing penting bèrès,” sahut Roeslan. ( Sudahlah, serahkan saja soal itu pada saya. Yang penting beres…. ).

Setelah menerima peci bekas yang biasa dipakai Bung Karno, Roeslan segera menyerahkan kepada Anang.

Roeslan kaget ternyata jumlah peserta lelang begitu banyak. Semuanya pengusaha asal Gresik dan Surabaya. Tapi yang membuatnya sangat terkejut, ternyata Anang melelang Tiga Peci….

“Saudara-saudara,” kata Anang. “Sebenarnya hanya satu peci yang pernah dipakai Bung Karno. Tetapi saya tidak tau lagi mana yang asli bekas Bung Karno…. Yang penting ikhlas atau tidak..?”

“Ikhlas..!!!”, seru para peserta lelang amat antusias….

“Alhamdulillah,” sahut Anang.

Dalam waktu singkat terkumpul uang Sepuluh Juta Rupiah. (Kala itu, sangat besar nilainya….). Semua uang itu segera diserahkan Anang kepada Roeslan.

Hei… Asliné lak siji sé,” kata Roeslan. ( Hei, yang asli cuma satu ‘kan..?)

“Iyaa. Sebenarnya dua peci lainnya itu yang akan saya berikan untuk Bung Karno,” kata Anang.

“Tapi, kok kedua peci itu jelek..??”

“Memang sengaja saya buat jelek. Saya ludahi, saya basahi, saya kasih minyak, supaya kelihatan bekas dipakai,” sahut Anang….

Koen iki kurang ajar Nang, mbujuki wong akèh,” Roeslan ekting ngamuk. (Kamu kurang ajar, Nang. Nipu banyak orang.”).

Nék gak ngono gak olèh dhuwik akèh,” enteng saja Anang njawabnya. ( Kalau nggak begitu mana mungkin bisa dapat banyak uang).

Roeslan kemudian menyerahkan semua uang hasil lelang kepada Soekarno.

Cak, kok akehmen dhuwiké..??”. Bung Karno kaget. ( Banyak banget uangnya).

Iku akal-akalané Anang,” jelas Roeslan. ( Itu semua akal-akalan Anang..)

Roeslan pun menceritakan bagaimana cara Anang menggandakan peci.

Kurang ajar Anang..! Nék ngono sing duso aku apa Anang..??” tanya Bung Karno. (Kalau begitu yang berdosa saya atau Anang..?).

“Anang…,” singkat aja sahutan Roeslan.

Dhuwik sakmono akèhé jangé digawé apa Bung?” tanya Roeslan. ( Uang begitu banyak sebenarnya akan digunakan untuk apa Bung?”

Gawé zakat fitrahku….“, jawab Soekarno, serius. (Buat zakat fitrahku).

Gowoen kabèh dhuwik iki nang Makam Sunan Giri (di Gresik, red). Dumno nang wong-wong melarat nok kono,” kata Bung Karno. ( Bawa semua uang ini ke Makam Sunan Giri. Bagikan pada orang-orang miskin di sana,” jawab Soekarno. @bahar maksum

Sumber :
Buku “Suka Duka Fatmawati Sukarno”
Sebagaimana diceritakan kepada Kadjat Adrai.

#Salamsegerwaras #Alm.Bungkarno#Alm. Pak RoeslanAbdulGhani #Alfatihah..