LENSAINDONESIA.COM: Jumlah korban COVID-19 di Surabaya akan bertambah lebih banyak bila penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid III tidak dilaksanakan secara serius.

Pendapat itu disampaikan Sekretaris Fraksi Demokrat-NasDem DPRD Surabaya Imam Syafi’i, Kamis (28/05/2020).

Karena itu ia berharap, Pemerintah Kota Surabaya dapat berperan maksimal dalam penerapan PSBB Surabaya Raya yang akan berlangsung hingga 8 Juni 2020 nanti.

“Makin tidak seriusi PSBB, korbannya akan tambah banyak lagi. Ada PSBB saja jumlahnya (korban) sudah sebanyak ini. Apalagi tidak ada PSBB. Saya menghormati adanya penolakan PSBB di Surabaya, itu bagian dari hak berpendapat,” kata Imam kepada lensaindonesia.com, Kamis (28/05/2020).

Politisi Partai NasDem ini meminta semua pihak memahami secara utuh tujuan dilakukannya PSBB mengingat jumlah korban meninggal juga mengalami peningkatan.

“(Bila tidak ada PSBB) Tiba-tiba kelak banyak yang meninggal. Siapa yang disalahkan? Pasti wali kota-nya, yang punya wilayah. Bukan gubernurnya sebagai wakil pemerintan pusat yang tugasnya kordinatif. Apalagi sekarang semua perhatian tertuju ke Jatim dan Surabaya. Tidak ada pilihan untuk membendung pandemi COVID-19 ini kecuali dengan PSBB,” ujarnya.

Menanggapi tudingan bahwa PSBB tidak efektif untuk mencegah wabah Corona di Surabaya karena kasus COVID-19 terbukti kian memuncak, Imam menegaskan, bahwa terus bertambahnya kasus positif Corona karena penerapan PSBB di Surabaya tidak berjalan maksimal.

“Kalau belum berhasil yang salah bukan PSBB-nya, tapi penerapannya yang belum maksimal. Saya sudah temui banyak dokter yang menangani COVID-19, termasuk di rumah sakit milik Pemkot Surabaya, RS BDH dan RS Soewandi. Tidak ada satu pun dokter yang menolak PSBB. Karena saat inilah PSBB dinilai sebagai cara terbaik untuk memutus mata rantai COVID-19 di Surabaya,” ungkap Imam.

“Tinggal keseriusan kita semua mau ber-PSBB yang benar atau tidak? Di PSBB jilid dua setidaknya terlihat pemkot melakukan rapid test yang sangat masif, meski sesungguhnya agak terlambat. Karena harusnya sudah dilakukan di PSBB jilid satu. Tapi terlambat bukan masalah, dari pada terlambat sekali,” tambahnya.

Meski kerap mengkritisi penanganan COVID-19, Imam menyampaikan kabar positif, yaitu penanganan pasien COVID-19 di Surabaya saat ini sudah berjalan baik.

“Kini pasien yang terkonfirmasi positif, PDP dan OTG sudah dipisahkan dan dirawat sesuai tingkat keparahan mereka. Ringan, sedang dan kronis. Masalahnya saat ini semua rumah sakit rujukan COVID-19 dan tenaga kesehatan sudah kuwalahan. Saya yakin pemerintah sudah menyiapkan langkah langkah darurat taktis untuk mengatasinya sehingga jumlah yang meninggal tidak bertambah banyak. Karena itu, secara pribadi saya setuju ada PSBB jilid tiga,” pungkasnya.@LI-13