LENSAINDONESIA.COM: Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jawa Timur menanggapi santai tuduhan telah mengalihkan operasi mobil PCR (Polymerase Chain Reaction) bantuan BNPB dari Surabaya ke daerah lain.

Tuduhan itu, dilontarkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dalam sebuah video yang beredar viral pada Jumat (29/05/2019).

Dalam video itu, Risma tampak sedang menelepon seorang pejabat Pemprov Jatim sambil marah-marah. Ia tidak terima mobil PCR dialihkan ke daerah lain.

“Saya dapat WhatsApp Pak Doni Monardo (Ketua Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Pusat) kalau itu (mobil PCR) untuk Surabaya. Apa-apaan ini, kalau mau boikot jangan gitu caranya. Saya akan ngomong ke semua orang,” ucap Risma dengan nada bicara tinggi.

“Pak, saya nggak terima loh pak, betul saya nggak terima,” ujar Risma keras.

Menanggapi tuduhan boikot itu, Menanggapi tuduhan boikot itu, Ketua Rumpun Logistik Gugas COVID-19 Jatim, Subhan Wahyudiono menyampaikan, bahwa yang mendapatkan bantuan 2 mobil mesin PCR tersebut adalah Pemprov Jatim dari pemerintah pusat melalui BNPB.

Bantuan tersebut sebagai salah satu langkah untuk percepatan layanan laboratorium dalam melakukan tes swab di Jatim.

Kedua unit mobil mesin PCR diserahterimakan oleh BNPB kepada Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim di RS Lapangan COVID-19 yang dibangun Pemprov Jatim, Jalan Indrapura No. 17 Surabaya.

Kedua mobil datang secara berturut-turut yaitu pada Rabu 27 Mei dan Kamis 28 Mei 2020 kemarin.

Usai diserahterimakan, dua unit mobil mesin PCR tersebut langsung dioperasionalkan di Asrama Haji Surabaya serta RSUD Sidoarjo. Dan mobil mesin PCR juga akan difungsikan sebagai mobile laboratorium untuk daerah-daerah yang membutuhkan di Jatim. Bahkan, hari ini kedua mobil tersebut melayani masyarakat Kabupaten Lamongan dan Tulungagung.

Pihaknya juga telah lebih dulu mengirim permohonan dukungan percepatan penegakan diagnosis COVID-19 kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Pusat sejak tanggal 9 Mei 2020.

“Jadi di dalam surat kami itu permohonan mesin PCR sebanyak 15 unit. Di samping surat permohonan itu, malam hari Ibu Gubernur langsung telepon kepada Kepala BNPB RI Jenderal Doni Monardo dan juga Bapak Pangdam Brawijaya juga komunikasi kepada Kepala BNPB untuk segera ada bantuan mobil unit PCR ini,” terang Suban di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (29/05/2020) malam.

Tak hanya itu, Suban juga mengaku berkomunikasi Whatsapp (WA) langsung dengan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penaganan COVID-19 Doni Monardo. Selanjutnya diarahkan untuk segera menghubungi Deputi I Kedaruratan, Doddy Rustandi.

Doddy mengabarkan jika pada 27 Mei 2020 malam pihaknya telah mengirimkan satu unit mobil dengan 2 mesin PCR.

“Pak Doddy juga menyampaikan nomor telepon ke kami untuk menelepon driver maupun kru untuk mengarahkan nanti di mana harus diterima dan juga sepakat dengan Pak Doddy bahwa kedatangan mobil unit PCR ini kita terima di rumah sakit darurat, Rumah Sakit Lapangan di Jalan Indrapura, Surabaya. Itu kronologis awal,” papar imbuh Kepala Pelaksana BPBD Jatim ini.

Selama dalam perjalanan, Suban terus melakukan monitoring. Mobil tersebut sampai di Surabaya pada pukul 04.00 WIB.

“Jadi mobil unit yang pertama ini sudah beroperasi yang pertama tanggal 27 Mei 2020 ini di RS Unair ini juga mengerjakan 200 sampel dan di Asrama Haji juga mengerjakan 100. Jadi totalnya 300 sampel di Surabaya. Itu tanggal 27 Mei,” imbuhnya.

Pada tanggal 28 Mei mobil unit ini diarahkan di Sidoarjo dan di Kabupaten Lamongan. Karena di Sidoarjo sudah banyak yang harus di lab.

Sementara, menurut keterangan Suban, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memohon bantuan mobil PCR pada tanggal 22 Mei 2020. Sehingga, saat mobil tiba pada 27 Mei langsung dioperasikan di RSUA dan RS Asrama Haji Sukolilo.

“Saat ini kita belum kita jawab karena mobil ini langsung beroperasi. Jadi kenapa kita harus menjelaskan karena memang ada pemberitaan-pemberitaan yang kurang jelas,” terang Suban.

“Saya sampaikan ini kejelasan bagaimana kronologis bantuan BNPB yang mobil PCR ini untuk Provinsi Jatim dalam statemennya disampaikan bahwa mobil lab ini tidak hanya untuk Surabaya tetapi spesifik juga menyebut kota lain. Seperti Sidoarjo, Lumajang ini juga ada beberapa,” tegas Suban.

Ia juga memberikan alasan kenapa mobil PCR juga harus dikirim menuju Tulungagung. Karena Kota Marmer tersebut juga memerlukan bantuan swab akibat angka Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang tinggi.

“Karena terdata dengan kapasitas swab yang di sana juga harus perlu dilayani. Di Tulungagung PDP nya tertinggi nomor dua di Jatim. Dan berdasarkan jumlah PDP dengan jumlah 588 pasien dimana terdapat 172 pasien yang meninggal dalam status PDP sebelum sempat di-swab,” tandas dia.@sarifa