LENSAINDONESIA.COM: Bakal Calon Bupati (Bacabup) Sidoarjo Bambang Haryo Soekartono (BHS) merasa keberatan dengan rencana pemerintah yang akan menjadikan area semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo sebagai kawasan wisata Geopark.

BHS menyebut alasan utamanya karena hingga saat ini belum ada hasil kajian di bawah permukaan tanah untuk seluruh wilayah peta terdampak semburan Lumpur Lapindo.

Selain itu, bencana lumpur juga belum selesai penanganannya. Bahkan, luas peta terdampak sudah mencapai 1.300 hektare dari 640 hektare sebelumnya.

“Diperkirakan usia semburan (lumpur) bisa mencapai 30 tahun, ini menurut riset ahli dari Australi dan Rusia. Kemudian masih adanya 2 sesar (patahan) yaitu patahan Watukosek dan Sesar Siring yang bertemu di pusat semburan lumpur itu. Kondisi itu jelas sangat membahayakan,” katanya, Selasa (02/06/2020).

Menurut BHS, sebelum dilakukan kajian secara cermat terhadap Lumpur Lapindo, maka akan menimbulkan risiko jika mencampuradukkan bencana yang belum selesai penanganannya tersebut dengan wisata.

“Saya sangat keberatan jika area bencana ini dijadikan kawasan wisata Geopark di atas wilayah peta terdampak. Bila bencana ini belum selesai, jangan mencampuradukkan wisata dengan bencana, yang tentu sangat besar risikonya,” cetus Anggota DPR RI 2014-2019 asal Fraksi Partai Gerindra ini.

Terlebih, lanjut BHS, setiap tahun penambahan semburan masih luar biasa besar. Belum lagi soal penurunan tanah di wilayah sekeliling peta terdampak yang setiap bulan mengalami penurunan 30 centimeter atau 3 meter dalam 10 tahun.

“Seharusnya kita mengutamakan penanganan masalah bencana demi keselamatan rakyat Sidoarjo dulu. Apalagi, masih banyak tempat wisata lain di Sidoarjo yang bisa dieksplor,” tegasnya.

Saat ini, masih kata BHS, pusat semburan lumpur ini masih perlu diwaspadai. Apalagi material semburannya masih fluktuatif mencapai 60.000 sampai 100.000 meter kubik per hari. Karenanya Pusat Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (PPLS) masih tetap menanggulanginya dengan cara menyalurkan air dan terus menerus meninggikan dan mempertebal tanggul agar tidak sampai jebol. Bahkan ketinggian tanggul saat ini mencapai di atas 12 meter dengan lebar 15 meter.

“Sekarang semburan lumpur yang keluar agak berkurang, tapi airnya semakin deras. Antisipasinya adalah bagaimana tanggul tahan terhadap air karena sebelumnya tanggul hanya untuk penahan lumpur,” imbuhnya.

Karena itu, masih dibutuhkan perencanaan penanggulangan bencana berupa perencanaan kontijensi (contingency planning) untuk penanganan darurat jika terjadi bencana.

Selain itu, dibutuhkan pula alarm atau Early Warning System (EWS) untuk masyarakat di wilayah luar peta terdampak, yang jumlah penduduknya sangat padat.

Bambang Haryo mengatakan khusus pengadaan EWS itu tugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) karena semburan lumpur masuk bencana nasional.

“Karena itu BNPB harus ada disini bersama tim SAR guna menyelamatkan dan menolong masyarakat jika terjadi bencana. Bila saya diamanati jadi Bupati Sidoarjo saya mendesak pemerintah pusat merealisasikan semua itu. Termasuk sosialisasi dan evakuasi warga yang dasarnya adalah ketepatan waktu harus terukur dan terencana. Kalau sampai terlambat masyarakat yang akan kena dampaknya. Adanya Sesar Watukosek dan Sesar Siring mudah bergeser kalau ada gerakan sesar induk saat ada bencana gempa,” tandasnya.

Ia juga menjanjikan jika terpilih jdi Bupati Sidoarjo nanti, bakal menginisisasi mengasuransikan semua rumah dan tanah serta aset lainnya pada potensi peta terdampak dan wilayah berpotensi terdampak.

Sementara, Kabag TU PPLS (Pusat Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) Derry Stya Mandhala menegaskan kajian di bawah permukaan itu penting sebagai jaminan keselamatan warga sekaligus mengetahui kondisi di bawah permukaan lumpur.

Pihaknya sudah merencanakan dan menghitung anggaran yang dibutuhkan untuk kajian itu. Bahkan penganggarannya sudah masuk quality control dan supervisi.

“Tapi masalahnya kami tidak punya kewenangan menangani masalah di bawah permukaan. Itu masuk domain ESDM. Kalau tahu kondisi di bawah permukaan maka akan diketahui semua untuk bisa merencanaan pemanfaatan lumpur,” tandasnya.@sarifa