LENSAINDONESIA.COM: Peluang lulusan sekolah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI untuk mengembangkan diri meniti karir hingga ke luar negeri terbuka lebar. Salah satunya ditawarkan oleh industri penerbangan di Jepang (Japan Aviation Industry) yang membuka banyak lowongan bagi para tenaga asing, khususnya pekerja usia produktif.

Hal itu dikatakan Atase Transportasi Kedutaan Besar RI-Jepang Syamsu Rizal dalam acara Kuliah Umum Online yang digelar Politeknik Penerbangan (Poltekbang) Surabaya lewat aplikasi Zoom, Selasa (02/06/2020).

“Saat ini jumlah kelompok lanjut usia di Jepang jumlahnya lebih banyak daripada anak mudanya. Sedangkan lapangan pekerjaan di Jepang terbuka lebar untuk usia produktif. Disini jelas kita lihat peluang Jepang membuka lowongan pekerjaan untuk tenaga asing. Termasuk bagi para lulusan sekolah Kemenhub,” kata Syamsu Rizal.

Data jumlah populasi kaum lansia Jepang yang berusia lebih dari 65 tahun terus meningkat, jika dibandingkan dengan jumlah populasi kaum muda yang masih produktif.

Berdasar data Kedutaan Besar RI-Jepang yang diungkap oleh Syamsu Rizal tentang perbandingan jumlah penduduk Jepang dan Indonesia di tahun 2016, disebutkan bahwa penduduk Jepang populasi tertinggi didominasi usia 65-69 tahun, tertinggi kedua usia 40-44 tahun dan ketiga 45-49 tahun.

Sedangkan Indonesia, populasi tertinggi pada rentang usia 10-14 tahun dan 15-19 tahun. Dengan jumlah perbandingan yang hampir sama.

Selanjutnya di usia 5-9 tahun dan usia 20-24 tahun masuk dalam kategori populasi terbanyak di Indonesia.

Artinya populasi penduduk Jepang didominasi penduduk usia dewasa dan lansia. Sedangkan Indonesia didominasi usia anak dan remaja yang merupakan usia produktif pelajar dan mahasiswa.

Sementara, untuk data negara penumpang pesawat teratas di Asia Pasifik tahun 2018 tertinggi adalah Cina sekitar 668 juta, disusul Jepang di posisi kedua sekita 187 juta, ketiga India 176 juta dan keempat Indonesia 138 juta.

Minimnya penduduk berusia produktif dan tingginya minat penduduk Jepang untuk bepergian menggunakan pesawat itulah yang menjadi alasan dibukanya banyak peluang bagi tenaga asing, khususnya bagi lulusan sekolah penerbangan seperti sekolah Kemenhub di Indonesia.

Syamsu Rizal juga mengingatkan meski terbuka lebar lowongan pekerjaan di bidang penerbangan di negeri sakura itu, namun ada syarat utamanya agar bisa dengan mudah diterima bekerja di Jepang. Yakni menguasai bahasa Jepang.

“Yang dibutuhkan oleh para taruna yang ingin berkarir di Jepang, enggak
cuma harus bagus di bidang akademik dan bahas asing yang biasa dipelajari yakni bahasa inggris. Ada syarat utama lagi yang harus dimiliki, menguasai bahasa Jepang,” cetusnya.

Kuliah Umum Online yang bertema ‘Kesiapan Sumber Daya Manusia Transportasi Udara Menghadapi Persaingan Global’ tersebut juga dibuka oleh Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara Heri Sudarmadji, diikuti 250 peserta terdiri dari civitas akademika, dosen, taruna taruni Poltekbang Surabaya hingga partisipan.

Turut hadir Direktur Poltekbang Surabaya Achmad Setiyo Prabowo, juga akademi di lingkungan Pusbang Udara yaitu Poltekbang Jayapura, API Banyuwangi, Poltekbang Medan, dan PPI Curug.@sarifa