LENSAINDONESIA.COM: Mencermati kondisi penyebaran wabah Covid-19 di tanah, potensi terjadinya gelombang kedua penyebaran wabah ini masih relatif tinggi dan harus terus diwaspadai. Kondisi ini terjadi karena mobilitas masyarakat saat ini relatif belum terkendali.

Banyak di antara orang-orang yang pergi keluar rumah tanpa perlindungan memadai. Hal tersebut harusnya menjadi kesadaran bersama untuk mentaati protokol kesehatan dengan memakai masker dan menjaga jarak relatif saat bepergian keluar rumah.

“Ada yang pergi tanpa masker, pergi ke tempat berkerumun. Mulai mencoba minum kopi, pergi ke restoran, dan seterusnya,” ujar Pratiwi Sudarmono, Ketua Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta, kemarin.

“Jadi mereka takut terkena Covid-19, tapi perilakunya nggak mendukung untuk melindungi diri,” sambungnya.

Atas kondisi tersebut, Pratiwi mengingatkan, potensi gelombang kedua pandemi Covid-19 itu bisa saja terjadi karena saat ini pergerakan masyarakat mulai terlihat luar biasa.

Masyarakat yang memiliki pergerakan bebas di luar rumah tanpa menghiraukan protokol kesehatan, maka potensi penularan Covid-19 akan semakin tinggi.

“Dari kemarin Lebaran orang pergi mudik, kemudian akan kembali lagi ke Jakarta. Jadi ada pergerakan orang yang banyak, juga masuknya ABK atau tenaga kerja dari luar negeri ke Indonesia,” ungkap Pratiwi.

Virus Covid-19 ini, kata Pratiwi, dari waktu ke waktu terus melakukan perubahan pada dirinya. Dari data yang dimilikinya, diketahui bahwa virus Covid-19 mempunyai perbedaan-perbedaan.

“Namun, perbedaan-perbedaan itu tidak cukup bermakna untuk mengatakan bahwa ini bukan virus SARS Cov-2, jadi tetap ini adalah virus SARS Cov-2. Cuma ada namanya variasi-variasi,” terangnya.

Dia menambahkan, “Apakah virus itu datang dari Wuhan langsung ke Indonesia misalnya. Dan tanggal berapa dia sampai kita misalnya. Yang pertama datang kan adalah dari bulan Januari itu masuk ke Indonesia. Apakah virus itu sudah jalan dari Wuhan ke Singapura ke Eropa ke Amerika, baru masuk ke Indonesia. Itu yang dikatakan ada di daerah Jawa Timur, jadi itu berbeda dari strain yang ada di Jakarta,” kata Pratiwi.

Saat ini, lanjut Pratiwi, pihaknya tengah melakukan sequencing (teknik pembacaan urutan basa nitrogen pada DNA) virus Covid-19. Dengan begitu, maka akan semakin tahu dari mana saja virus itu datang sehingga bisa dikenali karakteristik dan penanganannya.

“Misalnya yang datang ke Indonesia Timur, apakah sama dengan Indonesia Barat. Kemudian nanti kita klop kan dengan berbagai karakter, semua itu bisa dipelajari,” jelasnya.

Diketahui sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah Achmad Yurianto menyampaikan, jumlah pasien positif Covid-19 di seluruh Indonesia bertambah 609 kasus per Selasa pukul 12.00 WIB. Dengan penambahan ini, maka jumlah total positif Covid-19 menjadi 27.549 orang. Jumlah total kasus positif tersebut merupakan hasil pemeriksaan dari 342.466 spesimen.

“Hari ini ada penambahan kasus konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 609 sehingga menjadi 27.549 orang,” katanya.

Sedangkan untuk jumlah kasus sembuh dari Covid-19 bertambah 298 orang hari ini. Jumlah total pasien sembuh di seluruh Indonesia menjadi 7.935 orang.

“Lalu ada penambahan 22 pasien meninggal dunia karena terinfeksi virus Covid-19. Jumlah total pasien meninggal pun menjadi 1.663 orang,” ujar Yurianto.@licom