LENSAINDONESIA.COM: Sulitnya ekonomi di tengah pandemi Covid-19, justru menjadi kegembiraan petani jeruk Dekopon asal Magetan yang kini panen perdana.

Giman, petani jeruk asal Jepang itu mengatakan, panen pertamanya bersama sejumlah kelompok tani ini marupakan hasil budi daya sejak tiga tahun lalu.

“Alhamdulillah apa yang kami tanam tiga tahun lalu sudah berbuah dan menunjukkan hasil. Bahkan jeruk keprok Dekopon ini sangat diminati oleh pasar di luar Magetan,” ujar Giman yang merupakan petani mitra dari CV. Usaha Pangan Sejahtera saat dikonfirmasi, Rabu (03/06/2020).

Sementara itu, Ahmad Baiquni, pemilik CV Usaha Pangan Sejahtera menyampaikan, di Indonesia sendiri, jeruk Dekopon masih baru dan terbilang langka.

“Untuk Jawa Timur, ya baru di Magetan ini ditanam dan dikembangkan. Kami sudah memulai sejak tiga tahun lalu dengan menanam sekitar 5000 pohon,” tandasnya.

Jeruk Dekopon merupakan varietas atau ragam dari jeruk Mandarin. Jeruk kualitas tinggi ini merupakan hibrida dari jeruk Kiyomi dan Ponkan yang mulai dikembangkan di Jepang di tahun 1972.

Jeruk asal negeri Sakura ini unik dan berkarakter benjolan di bawah tangkai buah, atau sering di sebut jeruk bermahkota. Jeruk ini juga tanpa biji, berwarna oranye bila sudah tua dan soal rasa sangat segar dan cenderung manis.

Ia meyakini, budi daya jeruk Dekopon akan membuat petani Magetan naik kelas. Hasil dari budi daya jeruk Dekopon ini cukup menjanjikan. Jika jeruk lain dijual, harga per kilogram antara Rp 15-30 ribu rupiah, namun jeruk Dekopon bisa laku hingga Rp80.000/kg.

“Saya sangat yakin, jeruk Dekopon bisa membawa kesejahteraan bagi para petani di Magetan. Prospek bisnisnya sangat bagus. Ini bisa membuat petani lokal Magetan naik kelas,” pungkas Ahmad Baiquni.@Eld-Licom