LENSAINDONESIA.COM: Pelaksanaan rapid test dan PCR Swab massal yang yang digelar oleh Badan Intelejen Negara (BIN) bersama Pemerintah Kota Surabaya di Terminal Keputih Sukolilo, Kamis (04/06/2020) mengabaikan protokol kesehatan (phisycal distancing). Hal ini karena para peserta tes berdesak-desakan dalam antrean.

Wakil Ketua DPRD Surabaya, Reni Astuti yang kebetulan berada di lokasi menyampaikan, terjadinya desak-desakan itu karena kuwalahan dengan banyaknya warga yang datang.

Ia pun khawatir, kerumunan warga yang berjubel tersebut akan menimbulkan penularan, karena dari hasil pemeriksaan sudah ada yang reaktif.

“Soal antrean harus menjadi perhatian Tim gugus tugas COVID-19 Pemkot Surabaya. Agar physical distancing tetap terjaga dengan baik,” terang politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Menurut Reni, ketika warga yang datang cukup banyak dan antusias seperti itu, seharusnya diberlakukan antrian nomor.

“Misalkan per-50 antrian dan lainya menunggu. Ini yang terjadi masih berdempetan. Harusnya bisa lebih tertib dan petugas dilapangan siap,” tegasnya.

Sementara itu dari hasil data yang didapat sebanyak 1.074 warga melakukan tes dan 124 dinyatakan reaktif hasil rapid test. Selanjutnya mereka menjalani tes swab dan hasilnya belum diketahui.

“Segera persiapkan ruang isolasi baru bagi warga yang dinyatakan positif tersebut,” katanya.@wan