LENSAINDONESIA.COM: Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Padjajaran (Unpad), Prof Zuzy Anna mengatakan, pengembangan industri pangan bukan persoalan yang mudah.

Dalam pelaksanaannya diperlukan dukungan seluruh komponen masyarakat dan pemangku kepentingan guna menopang kemajuan industri pangan.

Persoalan industri pangan, menurutnya, bukan hanya pada ketersediaan dan inovasi pangan semata, namun juga terkait sistemnya. Sehingga, pangan dapat menyejahterakan masyarakat secara berkelanjutan.

“Inovasi pangan penting diperhatikan oleh para pemangku kebijakan terutama pemerintah, sehingga kebijakan yang dihasilkan dapat mendorong lahirnya inovasi-inovasi yang berkelanjutan,” ujar Prof Zuzy dalam webinar Inspirasi Dari Hati oleh Kuningan Knowledge and Innovation Center (KKIC) salam siaran persnya, Senin (22/6/2020).

“Ini sesuai dengan semangat kolaborasi dalam SDGs (Sustainable Development Goals) atau tujuan pembangunan berkelanjutan,” sambung Prof yang juga Direktur Unpad SDGs Center ini.

Dipihak lain, Direktur Pusat Teknologi Pertanian BPPT Dr. Dudi Iskandar mengaku, masalah pangan sangat kompleks, selain dengan peningkatan kapasitas SDM dan dorongan teknologi, perlu juga kolaborasi antara pemda dan pusat, terutama terkait perizinan, insentif, kebijakan dan program-program yang diambil.

Selain itu, perlu juga adanya inovasi dari lembaga pendidikan dan penelitian, swasta, dan berbagai komunitas yang ada.

“Kedepan bisa dilakukan berbagai program pengembangannya seperti membuat techno park-nya versi Kabupaten Kuningan seperti dikembangkan di beberapa daerah lainnya,” ujar Dudi.

Selain itu, menurut Dudi, yang perlu perhatian adalah SDM. Pengembangan inovasi pangan ditentukan oleh SDM.

“Harus ada peningkatan keahlian kepada para petani terutama mendorong generasi muda untuk terlibat aktif di pertanian dan dibekali kewirausahaan,” terangnya.

“Inovasi juga terkait dengan teknologi itu sendiri, optimalisasi riset badan litbang, kerjasama dengan perguruan tinggi juga penting. Tetapi yang lebih penting juga adalah bagaimana mengkomersialisasikan inovasi kepada industri, sehingga bisa dirasakan manfaat oleh masyarakat. “Hal-hal tersebut harus didukung oleh regulasi yang tepat dari pemerintah,” sambungnya.

Sementara, peneliti media baru yang juga seorang entrepreneur Prabu Revolusi mengatakan perkembangan bisnis saat ini tidak bisa lepas dari digital. Sejak awal hal ini harus diperhatikan dengan baik, karena bisa mendorong usaha menjadi berkembang.

“Aset digital melalui berbagai platform menjadi suatu hal yang sangat penting, bukan sekedar untuk promosi tetapi juga untuk menjaga kelangsungan usaha,” ujar founder Entrepreur-Hub.

menurut Prabu, di masa pandemi saat ini membuka peluang besar pada usaha makanan jika jeli membaca peluang.

“Market place kedepan akan berkembang berbasis digital retail, untuk itu penting membangun aset dan ekosistem digital untuk brand pangan,” jelasnya.

Masih di kesempatan yang sama, Founder KKIC, Ade Kadarisman, mengatakan pangan merupakan suatu hal yang strategis untuk masyarakat. Untuk itu perlu strategi yang tepat, kebijakan yang komprehensif dan penerapannya harus mengedepankan aspek kerjasama yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kuningan Knowledge and Innovation Center (KKIC) merupakan sebuah rintisan platform komunikasi dan networking yang akan dikembangkan untuk menjembatani komunikasi antar para pemangku kepentingan, meningkatkan kolaborasi dan mengoptimalkan berbagai potensi inovasi.@licom