LENSAINDONESIA.COM: Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya melaksanakan Peraturan Wali Kota (Perwali) nomer 28 tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Normal Baru Pada Kondisi Pandemi COVID-19.

Karena itu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) selaku penegak peraturan daerah akan bersikap tegas terhadap warga yang melanggar protokol kesehatan COVID-19, seperti pengendara yang tidak menggunakan masker.

Kepala Satpol PP Kota Surabaya Eddy Christijanto menyampaikan, Pemkot telah beberapa kali melakukan sosialisasi mengenai penerapan dan pengawasan terhadap penerapan Perwali nomer 28 tahun 2020 tersebut. Namun sampai saat ini masih ada masyarakat yang tidak patuh. Banyak dari mereka tidak memakai masker baik saat di sekitar rumah maupun saat berkendara.

Bahkan berdasarkan hasil operasi memunculkan angka 60 persen bagi orang yang mengemudi tanpa masker dan tidak jaga jarak.

Untuk sanksi yang diberikan pada para pengemudi tak bermasker tersebut adalah berupa tilang KTP selama 14 belas hari sesuai dengan masa inkubasi virus. Setelah 14 hari KTP baru bisa datang Markas Satpol PP Kota Surabaya untuk mengambil KTP-nya kembali sembari menuliskan surat pernyataan bahwa tidak akan mengulangi perbuatannya dan akan mematuhi semua protokol kesehatan yang berlaku.

Sedangkan untuk jumlah pelanggar yang terjaring operasi ini adalah sebanyak 40 orang.

“Sesuai Perwali pasal 34, Satpol PP diperkenankan melakukan penyitaan KTP kepada para pelanggar, makanya bagi warga yang tidak menggunakan masker pada saat mengemudi, kita hentikan dan dilakukan penyitaan KTP-nya,” ungkap Eddy di kantornya,

“Sejak hari pertama penertiban hingga hari ini, sudah ada sekitar 40 KTP yang kami sita. Mereka bisa mengambil KTP itu setelah 14 hari, langsung datang ke kantor sambil membuat surat pernyataan,” ungkapnya.

Bagi pelanggar yang tidak membawa KTP saat terjaring operasi maka sanksi yang mereka dapatkan adalah Push Up atau joget. Tujuan utama diberikan sanksi Push Up dan joget di depat umum (pinggir jalan) adalah untuk memberi efek jera kepada semua pelanggar termasuk mereka yang belum melanggar.

“Jadi, diharapkan mereka ingat terus pernah dihukum joget karena tidak menggunakan masker, sehingga mereka akan lebih ingat untuk terus menggunakan masker,” katanya.

Menurut Eddy selain sebagai bentuk sanksi joget juga dapat menguatkan sistem imun. Sebab imun akan menguat saat seorang merasa senang. Dengan kuatnya sistem imun maka akan membuat mereka tidak mudah terserang virus.

“Nah, setelah mereka diberi sanksi itu, lalu mereka diberi masker dan diminta untuk selalu dipakai dimana pun berada,” ungkapnya.@budi