LENSAINDONESIA.COM: Kementerian Hukum dan HAM menyebut sudah membebaskan lebih dari 40 ribu narapidana melalui mekanisme Integrasi dan Asimilasi terkait adanya pandemi Covid-19.

Selain itu, Menkumham juga menyebut telah mencabut integrasi dan asimilasi pada dua ratus dua puluh dua napi dikarenakan telah berulah kembali.

Kebijakan tersebut sempat menuai polemik lantaran sejumlah napi yang dibebaskan malah berulah kembali. “Yang dicabut karena pelanggaran dari orang-orang yang diberikan asimilasi dan integrasi sebanyak 222,” ujar Yasonna dalam rapat dengan Komisi III DPR, Senin (22/6/2020).

Meski demikian, kata Yasonna, jumlah tersebut kecil dari total keseluruhan napi yang dibebaskan. “Sekitar 0,6 persen,” terang politisi PDIP ini.

Per hari ini, Yasonna menjelaskan, total napi yang dibebaskan melalui integrasi dan asimilasi ialah sebanyak 40.026.

Kondisi lapas saat ini, meski pihaknya sudah membebaskan 40 ribu napi lebih, jumlah napi masih lebih banyak dibanding kapasitas tahanan. Jumlah napi ialah sekitar 229.000 orang sementara kapasitas tahanan sebanyak 132.107.

“Jadi pada Juni 2020 kondisi over capacity sebesar 73,41 persen, masih tetap terjadi,” jelasnya.@licom