LENSAINDONESIA.COM: Universitas Indonesia (UI) menjalin kerja sama dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negera (BUMN) dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama (NKB) yang dilakukan oleh Menteri BUMN RI, Erick Thohir, MBA, dan Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, SE., MA., Ph.D. Penandatanganan dilakukan pada Selasa (23/6) di Balai Sidang UI, kampus Depok.

Bersamaan dengan acara tersebut, sebagai salah satu bentuk implementasi kerja sama antara UI dan Kementerian BUMN, Direktur Utama Rumah Sakit UI (RSUI), dr. Astuti Giantini, Sp.PK, MPH dan Direktur Pengembangan Pertamina Bina Medika Indonesia Healthcare Corporation (Pertamedika IHC), dr. Novalina Anwar, MHKes menandatangani Perjanjian Kerja Sama Operasional tentang “peningkatan profesionalitas tata kelola RS” antara kedua belah pihak.

Turut hadir dalam penandatanganan kerja sama tersebut Sekretaris Kementerian BUMN, Susyanto, Ketua MWA UI, Saleh Husin, dan Direktur Utama Pertamedika IHC, Dr.dr Fathema Djan Rachmat, SpB,SpBTKV, MPH.

Lingkup kerja sama antara UI dan Kementerian BUMN meliputi antara lain yakni peningkatan kapabilitas sumber daya manusia di lingkungan Kementerian BUMN dan juga UI, pelaksanaan riset dan kajian-kajian di UI yang berbasis evidence based policy, serta pengabdian masyarakat yang didasarkan pada asas saling mendukung dalam menyukseskan program pembangunan nasional.

Sedangkan kerja sama antara RSUI dengan Pertamedika IHC meliputi pengelolaan manajemen sesuai standar akreditasi RS, pengembangan fasilitas layanan kesehatan seperti pengembangan Pusat Layanan Unggulan untuk masyarakat UI, sivitas akademika UI dan masyarakat luas, kolaborasi dalam pengembangan riset penelitian dan inovasi bidang kesehatan serta pengembangan sumber daya manusia di lingkungan rumah sakit dengan peningkatan kapasitas dan kapabilitas tenaga medis dan tenaga kesehatan lainnya.

Menteri BUMN, Erick Thohir menyampaikan, “Dalam menjalani tatanan normal baru yang terjadi akibat COVID-19 menuntut adanya inovasi teknologi di BUMN,” ujar Erick.

“Kementerian BUMN mengharapkan research and development tidak hanya dilakukan oleh BUMN, namun juga bisa disinergikan bersama universitas agar terbentuk ekosistem yang saling mendukung. Saya optimis kolaborasi UI dan Kementerian BUMN akan menghasilkan inovasi dan penelitian yang bermanfaat bagi bangsa dan masyarakat Indonesia,” sambungnya.

Sedangkan, Rektor UI, Prof. Ari juga menuturkan, “UI mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara Kementerian BUMN dengan UI. Kolaborasi ini merupakan optimalisasi kerja sama triple helix atau lazim dikenal dengan istilah ABG (academic, business, government),” ujar Prof Ari..

“Dukungan Kementerian BUMN mampu mengakselarasi upaya hilirisasi atau komersialisasi riset dan inovasi yang dihasilkan oleh periset UI. Selain itu, dengan adanya kesepakatan ini, RSUI sebagai rumah sakit pendidikan milik UI akan semakin melesat di dalam manajemen pelayanan kesehatan dan jaringannya baik nasional dan internasional,” sambungnya.

Kerja sama UI-Kementerian BUMN juga sejalan dengan rencana UI membangun Science Technology Park (kawasan terpadu pengembangan riset dan inovasi) sehingga dapat bersinergi dengan instansi BUMN-BUMN, khususnya pada unit R&D (research and development) BUMN.

“Dukungan BUMN akan sangat membantu para periset UI di dalam mengembangkan riset dan inovasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan industri. Saatnya kita tidak berpuas diri hanya pada publikasi, namun ke depan, hasil riset dan invensi tersebut seyogianya juga dapat memberikan manfaat dan dampak yang langsung dirasakan oleh bangsa dan negara Indonesia,” terang Prof. Ari.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Pertamedika IHC, Dr.dr Fathema Djan Rachmat, menyampaikan bahwa sebagai rumah sakit pendidikan, RSUI mempunyai peranan yang sangat penting.

“Kolaborasi Pertamedika IHC dan RSUI ini akan mendorong peningkatan layanan kesehatan, riset dan pendidikan dengan mengoptimalkan fasilitas RSUI sebagai rumah sakit rujukan nasional, dengan demikian akan mendukung banyak program Pemerintah Indonesia di bidang kesehatan, dan menciptakan ketahanan kesehatan nasional Indonesia,” ujar dr. Fathema.

Ia menambahkan bahwa ketahanan kesehatan nasional Indonesia merupakan elemen penting yang membentuk ekosistem industri perumahsakitan yang sehat pula, dan mendorong sustainability bisnis rumah sakit di dalamnya.

Lebih lanjut, Direktur Pengembangan Pertamedika IHC, dr. Novalina, menyampaikan, kerja sama antara dua institusi besar, mapan dan telah memiliki kredibilitas yang sangat diakui secara nasional ini menjadi sinergi yang akan menggulirkan banyak inovasi bidang kesehatan yang baru.

“Sementara bila dipandang dari sisi industri kesehatan global, layanan kesehatan baru yang inovatif dan berkualitas dapat membantu industri kesehatan nasional dalam meningkatkan daya saing dengan institusi kesehatan di luar negeri. Sehingga dapat menahan orang Indonesia untuk lebih memilih berobat di dalam negeri dari pada ke luar negeri,” ujarnya.

Direktur RSUI, dr. Astuti, mengutarakan, “Kerja sama dengan Pertamedika IHC ini merupakan langkah awal untuk RSUI dapat mewujudkan kolaborasi yang bersinergi baik dalam pelayanan, pendidikan, dan penelitian. Selain itu, berharap kolaborasi ini dapat membawa RSUI menuju peningkatan pelayanan kesehatan yang lebih baik, dengan pengembangan inovasi dan sumber daya manusia serta pemanfaatan fasilitas kesehatan yang optimal,” kata dr. Astuti.

Ke depan, RSUI sebagai rumah sakit milik UI akan berperan sebagai pengampu bagi rumah sakit dan puskesmas di wilayah Kota Depok dan sekitarnya untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang terintegrasi.

Kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah Kota Depok dan sekitarnya akan jauh meningkat sejalan dengan peningkatan kapasitas dan kapabilitas fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk pengetahuan, keterampilan serta kompetensi tenaga kesehatan.@licom