LENSAINDONESIA.COM: Gempa bermagnitudo 5,1 SR yang berjarak 91 km di selatan Kabupaten Pacitan Jawa Timur cukup menghebohkan publik, terutama di jagad sosial media pada Senin (22/06/2020) kemarin.

Getaran gempa tersebut juga sempat dirasakan di beberapa daerah seperti Yogyakarya, Wonogiri, Tulungagung, Nganjuk, Klaten, sampai Sukoharjo. Gempa di selatan Pacitan itu sepertinya melengkapi rentetan gempa tektonik yang telah terjadi di Tasikmalaya yang berpusat di barat daya Pangandaran (19/05/2020), serta kumpulan (cluster) 9 gempa di Selat Sunda, Minggu (07/06/2020) lalu.

Mengutip laman Instagram resmi milik BMKG, Senin (22/6/2020), menyatakan gempa selatan Pacitan tersebut tak berpotensi tsunami dan tak ada indikasi gempa susulan. Untuk itu, pihaknya menghimbau kepada masyarakat tak perlu panik.

“Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” tulis BMKG.

BMKG juga menyarankan agar masyarakat memeriksa kembali bangunan rumah yang ditempati apakah sudah tahan gempa terhadap gempa. Ini mengingat, wilayah Nusantara ini memang rawan bencana.

“Bangunan yang kokoh bisa mengantisipasi masyarakat terdampak gempa. Negara Indonesia yang berada di dua lempeng tektonik dunia memang disebut rawan bencana,” tutur pernyataan tertulis BMKG.

Meski demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika tetap mengimbau masyarakat agar mewaspadai adanya alarm gempa yang terjadi di Selatan Jawa.

“Gempa-gempa itu menjadi alarm yang mengingatkan kita bahwa zona gempa Samudera Indonesia selatan Jawa aktivitasnya meningkat,” ujarnya Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.

Daryono melalui keterangan tertulis menyampaikan, gempa di selatan Pulau Jawa khususnya di selatan Pacitan, Sukabumi, dan Lebak saat ini cukup aktif. Hal ini tampak dari seringnya wilayah tersebut terjadi gempa akhir-akhir ini.

Dalam sepekan terakhir BMKG merekam gempa di Pacitan berkekuatan 3,8 dan 2,9 Magnitudo pada 16 Juni 2020, kemudian 18 Juni (M=4,7) dan 21 Juni (M=3,2 dan M=5,1).

“Salah satunya adalah gempa tektonik dengan guncangan signifikan yang terjadi di selatan Pacitan dengan kekuatan M 5,1 pada hari Senin 22 Juni 2020 pagi dini hari pukul 02.33.08 WIB. Gempa berkedalaman menengah ini memiliki spektrum guncangan yang luas dan mampu menggetarkan wilayah sangat jauh,” jelas Daryono, Selasa (23/6/2020) kepada redaksi media ini.

Indonesia Paling Terdampak

Ananda Ramartha seorang indigo dalam kanal Youtubenya 6 Mei 2020 lalu meramalkan Indonesia bakal dilanda gempa magnitudo.

Akan kah ini pembuka bagi gempa besar dan tsunami yang akan melanda Indonesia? Tak ayal, potensi gempa skala besar yang berpotensi terjadi di tahun 2020 ini mengingatkan publik pada prediksi Ananda Ramartha, seorang indigo dan spiritualis.

Ananda Ramartha dalam kanal Youtubenya 6 Mei 2020 lalu, sempat menyampaikan visi atau penglihatan mata batinnya, bahwa akan ada gempa lagi yang bakal terjadi di Indonesia hingga mencapai magnitudo 9 SR (Skala Richter) di tahun 2020 ini.

Menurut Ananda, dari pengelihatan spiritualnya, bencana berupa gempa dan disusul oleh tsunami tersebut terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

Dari cuplikan energy update berjudul Prediksi Tsunami dan Covid-1 berakhir, Ananda Ramartha memprediksi 4 negara yang akan terdampak gempa.

“Warning. Jadi visinya begini, 74 kali gelombang gempa terjadi. Terakhir baru yang 9 (Skala Richter, red) di wave ini. Dan 74 kalinya itu di empat negara yakni Australia, Indonesia, Malaysia, sama Singapura,” papar Ananda dalam update energinya bulan lalu.

Melanjutkan visinya, Ananda menyampaikan di antara 4 negara tersebut, Indonesia terkena dampak yang paling besar.

“Setelahnya baru nanti ada wave 9 skala richter di tengah laut, cukup besar,” paparnya.

Sayangnya, Ananda masih belum berkenan menjabarkan tanggal pastinya.

“Bulan Agustus 2020, saya dikasih tahu tanggalnya sih cuman no no no, ya udahlah I don’t know,” tutur Ananda.

Dari hasil pengamatannya tersebut, justru Ananda berharap penampakan gempa tersebut tidak benar terjadi di Indonesia.

“Aku ini aja masih berharap kalau ini salah kok,” tegasnya.

Wali Kota Surabaya Siapkan Mitigasi

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini menyampaikan paparan rencana mitigasi bencana berskala besar si Surabaya.

Masih terkait gempa, tsunami dan bencana di tahun 2020, Walikota Surabaya Tri Rismaharini rupanya malah sangat serius menanggapi kemungkinan bencana besar yang melanda Indonesia.

Dalam sebuah pertemuan, Tri Risma Harini mengungkapkan soal adanya prediksi atau ramalan dari ahli firasat bernama Wirang Birawa. “Saya pikrr saya setengah ngga percaya. Ternyata setelah itu Pak Edi dating ke tempat saya. Bu itu ramalan BMKG dan BNPB persis sama,” kata Risma.

Dalam video tersebut Risma menyatakan, pihaknya sudah merapatkan terkait ramalan yang cukup mengerikan,  namun informasinya ternyatanya sesuai dengan informasi potensi bencana yang disampaikan BMKG dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

“Tahun 2020 itu ada terjadi gunung meletus, ada tsunami, ada gempa bumi 8 sampai 8,5 SR, dan kemudian ada burung besi jatuh itu yang saya inget,” tutur Risma dalam video yang diunggah oleh akun Youtube redaksi d.onenews 5 bulan lalu.

Risma memaparkan, pihaknya telah mempersiapkan beberapa sistem untuk mengantisipasi adanya bencana atau mitigasi bencana berskala besar. Yakni, penyiapan gudang makanan, posko perlindungan, perahu karet, hingga genset untuk penerangan.

“Kita juga siapkan posko di Kali Brantas jika ada luapan. Kita bikinkan pintu jika debit air meningkat dan disalurkan ke pintu-pintu tersebut. Tak hanya itu, kita juga siapkan tim gerak cepat yang terdiri dari dokter, Linmas, Satpol, DKP, kebersihan dan PU yang dibekali peralatan di tujuh tempat tersebut. Lalu untuk mengantisipasi gempa kami sudah menanam pohon cemara udang untuk meminimalkan kerusakan,” terang Risma serius menjelaskan langkah-langkah dan program mitigasi bencana yang disiapkan Pemkot Surabaya.

Potensi Gempa Selatan Jawa

Soal gempa dan tsunami di selatan Jawa telah pula disampaikan oleh Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko tahun 2019 lalu. Lewat keterangan resminya, sempat mengingatkan bahwa potensi gempa mega thrust bermagnitudo 8,8 di selatan Pulau Jawa yang dapat memicu tsunami setinggi 20 meter di darat.

“Ada segmen-segmen mega thrust di sepanjang selatan Jawa hingga ke Sumba di sisi timur dan di selatan Selat Sunda. Akibatnya, ada potensi gempa mega thrust dengan magnitudo 8,5 hingga 8,8,” ujarnya.

Prediksi Widjo berdasarkan kajian ilmiah ini pun, sebenarnya bukan satu-satunya. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (Peta Gempa) yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) pada 2017 juga membenarkan hal ini. Peta Gempa tersebut menegaskan gempa yang berhulu dari mega thrust selatan Jawa pernah pula terjadi pada 1994 di Banyuwangi dan pada 2006 di Pangandaran.

Meski prediksi ilmiah dari lembaga pemerintah serta para spiritualis pekerja cahaya ini cukup mengerikan, masyarakat tak perlu panik. Indonesia sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan bencana (gempa bumi, tsunami dan gunung meletus) yang tinggi, kewaspadaan dan pemahaman publik, serta kesiapan program mitigasi kebencanaan dari pemerintah lah yang amat dibutuhkan.@Eld-Licom