LENSAINDONESIA.COM: Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyampaikan bahwa tren penambahan positif COVID-19 di wilayahnya mengalami penurunan.

Hal itu disampaikan Risma dalam video conference yang disajikan sebuah Talkshow dengan tema “Zona Berisiko Tinggi: Bagaimana Beradaptasi?” bersama Tim Komunikasi Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo dan Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Riau, dr. Indra Yopi, Selasa (23/06/2020).

Dalam video conference yang dipandu Kristomei Sianturi itu, Risma menyebut, tren pertambahan orang yang positif Corona yang awalnya 300-an telah berada di bawah 100 orang. Kata dia, hal ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dengan warga Surabaya.

“Hal ini menunjukkan bahwa tingkat disiplin dari masyarakat dalam menjalankan Protokol Kesehatan semakin baik sehingga penambahan positif mengalami penurunan,” katanya.

Risma mengklaim, bahwa selama ini pihaknya selaku mengingatkan warganya untuk selalu disiplin dan disiplin baik di pasar, kantor, mal, atau di lingkungan tempat tinggal untuk menjalankan protokol kesehatan sesuai dengan Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomer 28 Tahun 2020. Dalam penerapan Perwali tersebut Risma dan jajaran melakukan pengawasan yang ketat agar tidak ada yang melanggar.

“Jadi kami lakukan pengawasan ini secara konsisten. Setiap hari bahkan malam ada petugas yang piket di beberapa tempat untuk memantau masyarakat yang tidak menggunakan masker dan sebagainya,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama Indra mengungkapkan bahwa strategi yang dilakukan di daerahnya berbeda dengan di daerah lain. Di Provinsi Riau sendiri tidak ada istilah Orang Tanpa Gejala (OTG), semuanya dijadikan Orang Dalam Pengawasan.

Di Provinsi Riau sendiri para orang yang tanpa gejala juga ikut dirawat di rumah sakit karena dihawatirkan para OTG tersebut pergi keluar kemana-mana. Bahkan secara tegas dia mengatakan bahwa tidak percaya pada orang Indonesia akan tetap berada di rumah menjalankan isolasi secara mandiri.

“Kami gak percaya sama orang Indonesia Pak, 80% tanpa gejala anak muda. Disuruh rawat 14 hari di rumah saya yakin besoknya udah keluar kemana-mana,” terangnya.

”Sehingga dia akan menjadi carrier yang membuat kita gak beres-beres,” lanjutnya.

Berbeda dengan Indra, Risma mengungkapkan bahawa dia percaya sama orang Indonesia, percaya dengan warganya. Bahwa dengan adanya Kampung Tangguh Wani Jaga Suroboyo maka warganya akan saling mengingatkan untuk selalu mematuhi protokol-protokol yang telah ditetapkan oleh Pemkot. Bahkan dia menantang Yopi untuk datang secara langsung melihat keadaan di Surabaya.@LI-13