LENSAINDONESIA.COM: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan, angka kematian anak Indonesia di masa pandemi COVID-19 masih mengkhawatirkan. Karena itu, IDAI menilai, Indonesia belum siap untuk kembali membuka pembelajaran langsung di sekolah.

Di depan Komisi X DPR RI, Ketua IDAI Aman Pulungan menjabarkan, pada Mei lalu, jumlah anak yang positif COVID-19 di Indonesia mencapai 584 kasus. Sementara untuk jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) pada anak sebanyak 3.400.

“Jadi kalau kami lihat, meninggal baik PDP (pasien dalam pengawasan) maupun confirmed ini 200-an (meninggal), makanya kami bisa katakan untuk saat ini yang meninggal anak kita paling banyak di Asia, bahkan mungkin di dunia saat ini untuk masa pandemi COVID-19, direct atau indirect,” kata Aman pada Kamis (25/06/2020).

Dengan banyaknya jumlah penduduk di Indonesia, diperkirakan ada 60 juta anak di Indonesia. “Bisa kita bayangkan berapa banyak potensi mereka tertular dan menularkan,” imbuhnya.

Aman menyebut, dengan meningkatnya kasus anak meninggal, menunjukkan belum terkendalinya COVID-19 di Indonesia. Dia juga mengingatkan, anak-anak adalah kelompok rentan tertular Corona.

“Yang jadi pertimbangan kita bukan anak aja terinfeksi kalo dia pulang ke rumah ada dewasa, lansia dan komorbid yang mungkin terinfeksi,” ucapnya.

Apabila nekat untuk kembali membuka sekolah, maka pemerintah harus siap ada peningkatan kasus.

“Kalau kita mau buka sekolah berarti kita harus perkirakan kasus akan meningkat, berapa perawatan ICU, dan kematian yang akan meningkat,” tandasnya.@LI-13/l6