LENSAINDONESIA.COM: Universitas Indonesia (UI) melalui Direktorat Kerja Sama UI menyelenggarakan Webinar bertajuk “Strategi PTNBH Menghadapi Dampak Pandemik melalui Transformasi Menuju Entrepreneurial University” pada Rabu (24/6), secara daring.

Hadir dalam webinar tersebut, Sekretaris Universitas UI, dr. Agustin Kusumayati, M.Sc., Ph.D; Kepala Badan Kerjasama, Ventura dan Digital UI, Prof. Dr. Ir. Dedi Priadi, DEA; Direktur Kerja Sama UI, Dr. Toto Pranoto, SE, MM, serta para narasumber dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) yaitu UI, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan IPB University.

Sebagai PTNBH, pemerintah ingin perguruan tinggi menjadi kampus yang mandiri dan mampu mengoptimalkan seluruh asetnya, baik fisik maupun intelektual seperti riset, paten, prototipe sebagai sumber penerimaan di luar alokasi dari pemerintah pusat.

Di tengah pandemik COVID-19, kemandirian PTNBH harus semakin ditingkatkan mengingat dampak COVID-19 juga terasa hingga pada penurunan dukungan anggaran pendidikan dari pemerintah kepada perguruan tinggi karena tengah fokus pada penanganan COVID-19.
Berangkat dari permasalahan tersebut, UI menggandeng sejumlah PTNBH untuk saling berbagi strategi dan kiat sukses di dalam menjalankan entrepreneurial university.

Dalam sambutannya, Agustin, Ph.D. menuturkan, “Pandemik COVID-19 berdampak pada setiap lini kehidupan, termasuk pengelolaan perguruan tinggi. Badai COVID-19 memaksa kita untuk berubah. Perjalanan dinas mungkin sudah banyak menurun, namun kini kita harus banyak melakukan investasi pada sistem pembelajaran jarak jauh,” ujar Agustin.

“Di sisi lain, tentu ada kondisi yang berdampak pula pada kemampuan masyarakat di dalam mendukung dirinya untuk menempuh pendidikan. Dengan demikian kita harus berubah, mulai dari penyelenggaraan kegiatan akademik, cara penyampaian pembelajaran, materi yang diberikan, kompetensi yang harus dibekalkan kepada mahasiswa, serta bisnis kita juga berubah. Dengan demikian, tuntutan perguruan tinggi untuk bisa memenuhi kebutuhannya sendiri semakin tinggi, sehingga perguruan tinggi harus lebih gesit untuk berwirausaha,” sambungnya.

Peningkatan pendapatan Non-Biaya Pendidikan (Non-BP) universitas dapat dilakukan dengan membangun konten digital berbasis pengetahuan (knowledge-base) yang berkolaborasi dengan pihak industri, pemerintah, maupun masyarakat global.

Sejumlah potensi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan income PTNBH, diantaranya: Layanan pembinaan SDM bagi industri, pemerintahan dan lembaga pendidikan; Pengembangan kompetensi tersertifikasi; Program short-course; dan Pembelajaran Jarak Jauh dengan sistem credit earning.

Dalam paparannya, Kepala Badan Kerjasama, Ventura dan Digital UI, Prof. Dedi menuturkan, “Kedepannya, UI akan membangun Pusat Integrasi Digital Knowledge-Base Nasional. Di dalamnya, akan memuat platform digital UI berbasis pengetahuan, seperti layanan konsultasi dan inovasi, layanan search & link, layanan training dan sertifikasi,” ujar Prof. Dedi.

“Selain itu, di dalam Pusat tersebut, UI juga akan melakukan digitalisasi pelaksanaan Tri Dharma UI, serta membuka kesempatan kontrak/kerja sama di dalam maupun luar negeri. Dengan demikian, UI secara mandiri dapat meningkatkan pendapatan kampus Non-BP universitas,” imbuhnya.

Berikutnya, hadir sebagai panelis, Prof. Martani Huseini yang merupakan Ketua Center for Innovative and Governance – Fakultas Ilmu Administrasi UI (CIGO-FIA UI).

Prof. Martini menguraikan, “key success untuk menghilirisasi riset dan inovasi Indonesia, yaitu membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih kuat berkolaborasi pentahelix (akademisi, pemerintah, industri, masyarakat, dan media), berinovasi berbasis 3I yaitu, intercultural, interdisciplines, international, melakukan inovasi pada tata kelola kelembagaan PTNBH yang dinamis, kolaboratif, hierarchyless, boundaryless mulai dari level makro, meso dan mikro, melakukan pemetaan terhadap hasil riset dan inovasi perguruan tinggi untuk terciptanya komersialisasi yang unggul dan sustainable sehingga mendorong daya saing nasional yang memiliki ciri-ciri VRIO atau Valuable, Rare, Inimitable, Organized to Capture Value,” ujarnya.

Panelis berikutnya, Wakil Direktur IMERI FKUI, Prof. Budi Wiweko menyampaikan berkenaan strategi IMERI FKUI di dalam memberdayakan riset dan inovasi khususnya di bidang kesehatan.

“Sejumlah faktor pendukung keberhasilan hilirisasi dan komersialisasi riset dan inovasi di dalam perguruan tinggi yaitu, good governance atau tata kelola yang baik, yaitu yang terbuka, cepat, dan tidak rumit, khususnya di dalam membangun kerja sama dengan industri; sumber daya manusia dan jaringan yang kuat juga menjadi kata kunci; pusat riset juga harus memiliki career pathway yang jelas bagi para full timer researcher,” terangnya.

Lebih lanjut, Prof. Budi Wiweko juga mendorong agar perguruan tinggi harus memiliki Technology Transfer Office (TTO).

“TTO merupakan sarana bagi akademisi dari berbagai universitas untuk dapat mengembangkan riset bersama dunia industri menuju ranah komersial atau terapan. Jika tidak ada TTO, maka penelitian hanya berujung pada tesis dan disertasi, tidak dirasakan dampaknya bagi masyarakat. Terakhir, pusat penelitian dan inovasi juga harus mampu menghasilkan riset berbasis service,” paparnya.@licom