LENSAINDONESIA.COM: Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop dan UKM) RI berkolaborasi dengan UKM Center Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UKM Center FEB-UI), Coca-Cola (PT Coca-Cola Indonesia dan Coca-Cola Amatil Indonesia), dan QASA menggelar progran “Gerakan Toko BERSAMA (BERsih, SehAt, MAju)”.

“Gerakan Toko BERSAMA (BERsih, SehAt, MAju)” merupakan upaya membantu toko dan warung tradisional agar bertahan di saat krisis dan terus berkembang setelahnya. Gerakan Toko BERSAMA akan menjadi konsorsium sosial dari perusahaan-perusahaan swasta yang dikelola independen saat ini sedang dibentuk bersama QASA sebagai bentuk partisipasi dan kolaborasi stakeholders untuk percepatan perlindungan dan pemulihan usaha UMKM terdampak COVID–19.

Menurut data dari Call Center Kemenkop UKM terdapat 236.980 UMKM terdampak, permasalahan utama yang dihadapi adalah penjualan/permintaan menurun, permodalan dan distribusi terhambat, dan sulitnya bahan baku, dimana pedagang ritel merupakan sektor terdampak terbesar kedua sebesar 25,33%.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki menyatakan, pihaknya mengapresiasi Coca-Cola, UKM Center FEB UI, dan QASA atas inisiasi “Gerakan Toko BERSAMA (BERsih, SehAt, MAju)” sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan penghasilan pemilik toko/warung tradisional menghadapi kenormalan baru (new normal)”.

“Kolaborasi dan sinergitas dengan berbagai pihak harus terus kita optimalkan untuk mempersiapkan toko tradisional segera bangkit. “Gerakan Toko BERSAMA” diharapkan dapat membangkitkan semangat serta mengembalikan kekuatan pelaku usaha Toko atau Warung di tanah air sebagai tulang punggung perekonomian rakyat,” jelas Teten.

Sementara itu, Ketua UKM Center FEB UI, T.M. Zakir Sjakur Machmud, Ph.D mengutarakan, pihaknya menyambut baik kolaborasi ini sebagai bukti nyata sinergi antara dunia usaha, pemerintah dan universitas dalam rangka memberdayakan UMKM, khususnya peritel tradisional.

“Seperti diketahui, sektor ritel merupakan salah satu kontributor penting terhadap pembentukan PDB nasional dan akan menyerap banyak tenaga kerja cukup banyak. Sebab itu, sesuai kapasitas, kami siap membantu mensukseskan gerakan ini untuk Indonesia yang lebih baik,” ujar Zakir.

Managing Director QASA, Joko Wiyono, juga mengungkapkan, pihaknya melihat perlunya kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak untuk mengembangkan inisiatif ini agar lebih besar sehingga mampu memberikan dampak positif bagi pemberdayaan toko dan warung kelontong.

“Bersama mitra kolaborasi, kami akan membentuk peta jalan untuk pengembangan konsorsium sosial gerakan ini, yang pada tahap awal akan menjangkau lebih dari 500.000 toko tradisional di Indonesia terkait persiapan menghadapi periode kehidupan normal baru (new normal),” imbuh Joko dalam keterangan resminya, Rabu (01/07/2020).

Senada dengan itu, Direktur Public Affairs, Communications and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia Triyono Prijosoesilo, menyampaikan, saat masa krisis pandemi yang penuh tantangan ini, Coca-Cola sebagai bagian dari masyarakat ingin turut terlibat melalui Gerakan Toko BERSAMA.

“Sejalan dengan kepedulian kami terhadap dampak yang terjadi kepada masyarakat, khususnya apda usaha ritel tradisional yang merasakan dampak cukup besar. Gerakan ini bertujuan agar mereka bisa bangkit kembali, membangun usaha mereka,” kata Triyono.

Sebelumnya, PT Coca Cola Indonesia telah memberikan fasilitas pengaman berupa tirai plastik untuk kasir kepada 50 ribu toko dan warung kelontong, dan saat ini juga tengah menyiapkan inisiatif lainnya.@Rel-Licom