LENSAINDONESIA.COM: Pandemi virus Corona (COVID-19) wilayah Surabaya Raya (Kota Surabaya, Sidoarjo dan Gresik) kian mengkhawatirkan. Kasus positif Corona dari hari ke hari terus bertambah. Padahal, tiga daerah ini sedang transisi menuju new normal.

Berdasarkan data Pusat Informasi Virus Corona (COVID-19) Jawa Timur, selama bulan Juni 2020, tercatat sebanyak 4.630 orang terkonfirmasi positif Corona. Sebanyak 4.630 positif COVID-19 ini berasal dari Kota Surabaya 3.116 orang, Kabupaten Sidoarjo 954 dan dari Gresik 560 orang.

Dari 4.630 pasien positif ini, 2.471 diantaranya dinyatakan sembuh dan sebanyak 322 orang meninggal dunia.

Pasien sembuh tersebut dari Surabaya sebanyak 2.158 orang, Sidoarjo 244 dan di Kabupaten Gresik 69 orang.

Berdasarkan rekapitulasi data, jumlah pasien meninggal dunia akibat COVID-19 di wilayah Surabaya selama Juni 2020 tercatat sebanyak 322 orang. Rincianya, dari Surabaya 211 orang, Sidoarjo 60 dan Gresik 51 orang meninggal.

Terkait persebaran COVID-19 di wilayah Surabaya Raya yang terus memuncak ini, Pakar Kesehatan Masyarakat, Hermawan Saputra pernah menyampaikan, bahwa lonjakan kasus COVID-19 di Jawa Timur khususnya di Kota Surabaya sudah diprediksi sejak awal.

Menurut Hermawan seperti dikutip okezone.com, peningkatan kasus tersebut di karenakan keterlambatan pemerintah setempat dalam mengambil tindakan.

“Pertama, terlambat dalam penerapan PSBB jadi di Jatim terutama Surabaya Raya baru aware dengan PSBB setelah tiga bulan terjadinya kasus. Padahal, Surabaya termasuk klaster yang cukup awal terjadinya kasus. Saya sebenarnya sudah sering menyampaikan itu,” katanya, Kamis (28/05/2020) lalu.

Hermawan mengaku melihat akan ada pergerakan yang signifikan kasus COVID–19 di Kota Pahlawan itu, namun pemerintah Kota Surabaya dianggap sangat lamban dalam mendeteksi dan mengambil kebijakan PSBB seperti yang diterapkan di beberapa wilaya di Pulau Jawa dan pulau lainnya.

“Saya ingatkan Surabaya itu akan menjadi episentrum tetapi sekarang itulah selalu terlambat untuk kita menyikapinya. Kami dari kesehatan masyarakat analis kesehatan sudah dari awal memprediksikan itu. Jadi itulah pilihan karena kaitan dengan PSBB ini kan inisiatif dari daerah berarti Wali Kota Surabaya (Risma) terlambat menerapkan PSBB di wilayahnya,” ujarnya.

Hermawan menuturkan, pada prinsipnya daerah-daerah di Pulau Jawa masih menjadi episentrum mulai daerah Jabodetabek di Jawa Barat, Surabaya Raya dan Sidoarjo, Kediri, serta Gresik juga menjadi wilayah baru.

“Yang pasti di seluruh Jawa ini sudah zona merah di Pulau Jawa ini kabupaten kota kan sudah punya kasus sehingga perlahan akan terus berkembang karena Jatim, DKI Jakarta dan Jabodetabek, Surabaya Raya dan Sidoarjo juga Kediri sekitarnya Gresik jadi di Jawa rasa-rasanya semua akan saling taut menaut,” tutupnya.@LI-13