LENSAINDONESIA.COM: Tiga perwakilan dari PTN Surabaya ditunjuk sebagai lokasi pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), yaitu Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Serta Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur menghadiri menghadiri rapat koordinasi dengan Pemerintah Kota Surabaya.

Rapat koordinasi (rakor) ini berkaitan dengan surat edaran Wali Kota Surabaya nomor 421.4/5853/436.8.4/2020 tanggal 2 Juli 2020, terkait syarat pelaksanaan UTBK dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang mewajibkan peserta UTBK menunjukkan bukti hasil rapid atau rapid tes COVID-19 sebagai syarat menghikuti ujian.

Ketua Panitia Pusat UTBK Universitas Airlangga (Unair) Junaidi Khotib. Junaidi menjelaskan, bahwa secara umum warga Kota Surabaya yang mengikuti UTBK di Surabaya, baik Unair, ITS, maupun Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berjumlah sekitar 38 persen. Sedangkan peserta dari Surabaya Raya yang meliputi Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Gresik sekitar 68 persen. Sementara itu, 22 persen merupakan peserta dari luar Surabaya Raya di Jawa Timur.

“Sementara 8 persen (peserta) tersebar di 34 Provinsi. Tetapi dari provinsi yang tidak diberikan mobilitas ke Surabaya, mereka kita izinkan untuk berpindah pada pusat-pusat UTBK setempat dimana mereka tinggal,” ujar Junaidi, Jumat (03/07/2020).

Ia mengungkapkan bahwa pelaksanaan UTBK SBMPTN ini berlangsung serentak di 74 lokasi yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Sedangkan di Surabaya sendiri, berlangsung di tiga PTN, yakni Unair, ITS dan UPN. Meski demikian, pihaknya telah menyiapkan tempat lain untuk menghindari terjadinya pengumpulan massa.

“Misalnya Unair selain di tiga kampus, A B dan C itu kami menggunakan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Untag dan Stiesia. Tujuannya agar tidak terjadi pengumpulan massa, ini diatur karena proses pelaksanaan UTBK sudah dijalankan dengan protokol ketat ini tidak menimbulkan klaster baru,” terangnya.

Wakil Rektor IV Unair ini menambahkan, bagi peserta yang hasil rapid test-nya dinyatakan reaktif, maka selanjutnya dilakukan rescheduling ulang jadwal ujian. Kemudian, peserta dirujuk ke pusat layanan kesehatan. Di sana ada Satgas COVID-19 yang akan melakukan handling.

“Kalau di Surabaya kan ada hotel yang nanti didampingi sama Dinas Kesehatan. Kalau di luar daerah kita akan sampaikan ke Satgas COVID-19 setempat. Kita di Universitas akan komunikasi dengan tempat asalnya. Dengan demikian seseorang itu akan segera mendapatkan tindakan lebih lanjut,” pungkasnya.@budi