LENSAINDONESIA.COM: Hari ini, Kamis (9/7/2020), dilakukan penyerahan buronan tersangka kasus pembobolan Bank Nasional Indonesia (BNI), Maria Pauline Lumowa dari pemerintah Serbia ke Indonesia.

Menteri Hukum dan HAM, Yassona Laoly langsung memimpin delegasi pemerintah Indonesia atas proses ekstradisi tersangka pembobol 1,7 triliun BNI ini.

“Saya menyampaikan, bahwa kami telah secara resmi menyelesaikan proses handing over atau penyerahan buronan atas nama Maria Pauline Lumowa dari Pemerintah Serbia,” ujar Yasonna melalui keterangan tertulis, Rabu (8/7).

Melalui pendekatan diplomasi, proses ekstradisi ini membuahkan hasil. Dimana, Yasonna menjelaskan, pemulangan Maria sempat mengalami sejumlah hambatan agar upaya tersangka lepas dari ekstradisi. Namun, Indonesia dan Serbia memiliki komitmen penegakan hukum sehingga ekstradisi ini berhasil diwujudkan.

“Indonesia dan Serbia memang belum saling terikat perjanjian ekstradisi, tetapi lewat pendekatan tingkat tinggi dengan para petinggi Pemerintah Serbia dan mengingat hubungan sangat baik antara kedua negara,” ujar Yasonna.

“Akhirnya permintaan ekstradisi Maria Pauline Lumowa dikabulkan oleh pemerintah Serbia,” sambungnya.

Yassona juga mengungkap, ekstradisi buronan pembobol Bank BNI ini tak lepas dari asas timbal balik karena sebelumnya Indonesia sempat mengabulkan permintaan Serbia untuk mengekstradisi pelaku pencurian data nasabah Nikolo Iliev pada 2015.

Sekedar diketahui, melalui letter of credit (L/C) fiktif, Maria Pauline Lumowa yang merupakan salah satu tersangka, pelaku pembobolan kas Bank BNI Cabang Kebayoran Baru senilai Rp 1,7 triliun.

Kasus ini terjadi pada Oktober 2002 hingga Juli 2003. Saat itu Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dollar AS dan 56 juta euro atau sama dengan Rp 1,7 triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari “orang dalam” karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd, Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd, dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pihak BNI, pada Juni 2003, mencurigai transaksi keuangan PT Gramarindo Group, dan mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor. Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, tetapi Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003, sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

Buronan Maria ini belakangan terlacak atau diketahui berada di Belanda pada 2009 dan sering bolak-balik ke Singapura. Genap 17 tahun upaya pengejaran buronan atas nama Maria Pauline Lumowa berakhir pada ekstradisi ini.@licom