LENSAINDONESIA.COM: Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, I Ketut Diarmita menyebutkan bahwa virus Flu Babi Baru (G4 EA H1N1) masih belum ditemukan masuk di Indonesia.

Paparan belum pernah ditemukan virus Fu Babi Bari di Indonesia itu, didasarkan dari hasil surveilans dan analisa genetik yang dilakukan Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Veteriner Kementerian Pertanian, yaitu Balai Veteriner Medan dan Balai Besar Veteriner Wates.

“Hasil surveilans kami menunjukkan bahwa virus Flu Babi yang pernah ditemukan di Indonesia, terbukti berbeda dengan virus Flu Babi Baru (G4 EA H1N1),” jelasnya dalam rilis tertulis Kementan, Senin (13/7/2020).

Ketut menerangkan, sebagai alat untuk deteksi dini, Kementan dengan dukungan FAO dan USAID telah mengembangkan Influenza Virus Monitoring (IVM) online untuk memonitor mutasi virus influenza sejak 2014. Langkah lain yang dilakukan adalah surveilans berbasis risiko untuk Flu Babi dan karakterisasi virusnya.

“Sebagai langkah kewaspadaan, kita juga membuat Surat Edaran tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Galur Baru Virus Flu Babi H1N1 (G4 EA H1N1),” ungkapnya.

Surat edaran itu berisi, mengajak semua pihak terkait untuk meningkatkan kerjasama, mewaspadai, dan menyiapkan rencana kontingensi kemungkinan masuk dan munculnya G4 EA H1N1 di Indonesia.

“Kita terus lanjutkan dan perkuat kerjasama One Health yang sudah berjalan baik dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dengan koordinasi dari Kemenko PMK,” tandas Ketut.

Keyakinan belum ditemukannya Virus Flu Babi Baru G4 EA H1N1 di Indonesia itu juga menyeruak saat Seminar Online Memahami dan Mewaspadai Ancaman Virus Flu Babi Baru (G4 EA H1N1), kerjasama antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian dengan dukungan USAID.

Seminar online itu lebih dari 8000 peserta dari berbagai lapisan masyarakat tersebut,.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes, Achmad Yurianto menyampaikan dalam seminar online itu, bahwa tujuan untuk menyosialisasikan tentang virus Flu Babi Baru H1N1 (G4 EA H1N1) dalam rangka meningkatkan pemahaman serta kewaspadaan jajaran Pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat untuk antisipasi kemungkinan masuk atau munculnya virus Flu Babi Baru di Indonesia

“Kita harapkan, seminar online ini dapat meningkatkan pengetahuan para tenaga kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, tenaga teknis lainnya, dan masyarakat,” ucap Yuri.

Yuri juga menjelaskan bahwa pada tahun 2009, WHO menyatakan Influenza A (H1N1) merupakan pandemic, karena penyebaran virus ini terjadi lebih dari 200 negara di dunia, termasuk Indonesia.

Namun virus Influenza A (H1N1), lanjut Yuri, berbeda dengan virus Flu Babi Baru H1N1 (G4 EA H1N1) yang ditemukan oleh ilmuwan Tiongkok.

MENULAR KE MANUSIA
Wabah virus jenis baru ini berpotensi menjadi pandemi di Tiongkok. Flu ini secara genetik turunan dari flu babi A/ H1N1pdm09 yang sempat menjadi pandemi pada 2009 silam. Hal ini diungkap jurnal penelitian Amerika Serikat PNAS yang terbit pada Senin (29/6/2020) sebagaimana dilansir CNBC.

Sejumlah perubahan baru terjadi pada flu yang disebut G4 EA H1N1 ini. Penelitian para ilmuwan menyebutkan, flu ini dapat tumbuh dan berkembang biak di sel-sel yang melapisi saluran udara manusia.
Sejumlah ilmuwan di universitas China dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China (CDC) dalam jurnal hasil riset, menyebutkan bahwa “Flu G4 EA H1N1 memiliki semua ciri penting menjadi sangat beradaptasi untuk menginfeksi manusia.”

Riset juga menemukan Flu G4 sangat menular, bereplikasi dalam sel manusia, dan menyebabkan gejala yang lebih serius pada hewan ferret daripada virus lain. Tes juga menunjukkan bahwa kekebalan yang didapat manusia dari paparan flu musiman tidak memberikan perlindungan dari flu ini.

Hasil tes darah menunjukkan antibodi yang diciptakan oleh paparan virus, terungkap sekitar 10,4% pekerja di rumah pemotongan hewan dan industri babi di Tiongkok dikabarkan sudah terinfeksi.

Tes lainnya menunjukkan 4,4% dari populasi umum juga terpapar virus tersebut.

Walau demikian, vaksin flu saat ini disebutkan tidak dapat melindungi mereka yang sudah terpapar virus baru ini. Akibatnya, pemerintah China terpaksa memantau serius para pekerja di industri yang memiliki kontak dengan hewan babi.

Virus ini sudah terkuak dapat berpindah dari hewan ke manusia. Tapi, belum ada penemuan bahwa virus flu baru ini dapat ditularkan dari manusia ke manusia.

“Sangat mengkhawatirkan bahwa infeksi virus G4 pada manusia akan meningkatkan adaptasi manusia dan meningkatkan risiko pandemi pada manusia,” ungkap catatan para peneliti dilansir CNBC.

Sejak 2011 hingga 2018, para peneliti mengambil 30.000 sampel usap hidung babi dari berbagai rumah jagal dan rumah sakit hewan yang tersebar di 10 provinsi di China. Dari sini, peneliti mengisolasi setidaknya 179 virus flu babi.

Prof Kin-Chow Chang, yang bekerja di Universitas Nottingham di Inggris, mengatakan kepada BBC jika saat ini manusia hanya “sedang teralihkan dengan corona, tapi tidak boleh melupakan virus baru yang berpotensi berbahaya”.

Virus baru ini belum jadi masalah langsung, namun Prof King-Chow King memperingatkan, “Kita seharusnya tidak mengabaikannya.” @jrk