LENSAINDONESIA.COM: Tim Advokasi Forum Wartawan Jakarta (FWJ) mengimbau Polda Jawa Tengah, agar menegur Polsek Pituruh, Polres Purworejo karena tidak bertindak sebagai penegak hukum yang mengayomi masyarakat. Polsek Pituruh secara sepihak menjebloskan warga, Yok Atmoko di sel tahanan sudah hampir sebulan ini, buntut melerai perkelahian di Rumah Makan Seafood, Montok, Purworejo.

“Para pihak yang terlibat perkelahian sudah saling memaafkan dan mencabut laporannya di Polsek Pituruh. Meski bukan delik aduan, Polsek tidak seharusnya memaksakan menahan Yok Atmoko, karena bersangkutan bukan pelaku perkelahian,” tegas Ketua Advokasi Forum Wartawan Jakarta Wilayah Tangerang, Agus Darma Wijaya.

Karena itu, Tim Advokasi FWJ menurut Agus, telah melaporkan permasalahan itu ke Kasie Propam Polres Purworejo dan Kapolres Purworejo, dan mengimbau Polda Jawa Tengah memberi teguran kepada Polsek Pituruh, karena bertindak tidak mengayomi rasa keadilan masyarakat di Jawa Tengah itu.

“Kami juga mengapresiasi dan berterima kasih terhadap Propam dan Polres Purworejo karena sudah memroses pengaduan kami terkait nasib yang menimpa Yok Atmoko,” jelas Ketua Tim Advokasi FWJ, yang juga dibenarkan Ketua Umum FWJ, Mustopa Hadi Karya (Opan).

Agus pun membeberkan kronologi peristiwa. Ringkasnya, Yok Atmoko warga Dukuh Sutogaten, Pituruh pada Rabu malam, 17 Juni 2020, berawal dari menyaksikan perkelahian di tempatnya bekerja di Rumah Makan Seafood Montok, Pituruh. Saat itu, perkelahian diawali cekcok mulut antara Sarino dan Teguh. Kemudian, pelaku Sarino sempat mencekik Teguh hingga baju Teguh robek.

Yok Atmoko menyaksikan tempatnya bekerja ricuh, tidak tinggal diam. Dia berupaya melerai. Namun, Yok sempat digigit Sarino saat melerai. Karena kesakitan, Yok memukul wajah Sarino hingga mengalami lebam di bawah kelopak matanya.

Sarino tidak terima dirinya mengalami luka lebam saat dilerai itu. Dia mengadukan kepada Polsek Pituruh. Malam itu juga, Polsek menahan Yok Atmoko dan menjadikannya sebagai tersangka melanggar Pasal 170 KUHP tentang tindak pidana kekerasan.

Akibat penahanan itu, upaya saling memaafkan dan menyelesaikan dengan cara kekeluarga sudah dilakukan. Sarino pun sanggup mencabut laporannya. Bahkan, Sarino sudah menerima uang kompensasi dari keluarga Yok Atmoko yang didukung lawan perkelahiannya, Teguh.

Walau begitu, Polsek Pituruh tetap menahan Yok Atmoko, dan melanjutkan perkara pidana tersebut.

“FWJ menerima keluhan rasa ketidakadilan warga seperti itu sangat menyayangkan dan menyerahkan pada Tim Advokasi FWJ untuk menangani,” kata Opan, yang mengaku prihatin karena penahanan sepihak terhadap Yok yang belum tentu bersalah dan sebagai tulang punggung keluarga, membuat keluarganya menderita.

“Meski ini bukan delik aduan, Polsek Pituruh tidak sepatutnya menahan dan hanya menjadikan tersangka Yok Atmoko, yang membela diri. Apalagi, perkelahian itu membuat rusuh tempat kerja Yok Atmoko,” tambah Agus.

Berdasarkan hasil klarifikasi Tim Advokasi FWJ di lokasi kejadian pada 25 Juni 2020, berhasil ditemui saksi-saksi seperti Supariyo, Slamet, Riksi Haryanto, dan Kepala Dusun Suprat, Kepala Dusun Darno, Sarino (korban), dan Rihman (adik korban). Semuanya, membenarkan kesepakatan menyelesaikan kekeluargaan. Termasuk, Sarino sendiri.

“Meskipun Sarino berniat mencabut berkas laporan, pihak Polsek Pituruh tidak mengabulkan, “ ungkap Agus.

Ketua umum FWJ berjanji akan membantu mengirim Surat Permohonan Penangguhan Penahanan (SP3), karena pertimbangan Yok Atmoko sebagai tulang punggung keluarga.

“Kami akan kirimkan surat permohonan Penghentian Penyidikan dan Penuntutan (SP3) ke Kapolsek Pituruh, Iptu Sapto Hadi, dengan tembusan ke pihak-pijak terkait,“ ucap Opan.

“Kami berharap ada perhatian khusus dari Polda Jawa Barat dan Polres Purworejo. Jangan sampai hal ini jadi preseden di kemudian hari,” imbuh Opan.

Agus menambahkan, kalau pun kasus ini dipaksakan sampai naik ke meja hijau, maka pihaknya akan mengajukan pra-peradilan.

“Kami tidak ingin melangka sejauh itu. Tapi, kalau terpaksa, pra-peraduilan akan ditempuh agar kasus ini menjadi terang benderang,“ kata Agus. @pan