LENSAINDONESIA.COM: Demi lebih memaksimalkan Penanganan COVID-19 di Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya melakukan perubahan terhadap Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomer 28 Tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Normal Baru pada Kondisi Pandemi COVID-19 di Surabaya.

Hal ini dilakukan karena perubahan terhadap Perwali sangat penting demi keselamatan dan kesehatan warga kota Surabaya.

Menurut Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVId-19 Kota Surabaya Irvan Widyanto, keselamatan dan kesehatan warga adalah hukum tertinggi.

Apalagi jika melihat tren kasus COVID-19 di Kota Surabaya cenderung turun, sehingga dengan adanya Perwali perubahan ini diharapkan tren yang menurun itu bisa terus
dipertahankan.

“Jangan sampai yang sudah turun ini bisa naik lagi. Kita ingin betul-betul turun dan mudah-mudahan bisa tuntas. Makanya, ada beberapa poin yang diubah dan ditambahkan dalam Perwali No. 33 Tahun 2020 ini. Salah satunya pedoman tatanan normal baru di tempat kerja untuk karyawan atau pekerja, termasuk pula soal jam malam yang saat ini sudah mulai diberlakukan,” tegas Irvan, Rabu (15/07/2020).

Ada beberapa poin yang menjadi perubahan, salah satunya yaitu ketentuan mengenai kewajiban menunjukkan hasil tes rapid dengan hasil non reaktif atau swab dengan hasil
negatif yang dikeluarkan oleh dokter Rumah Sakit atau Puskesmas yang berlaku selama 14 hari terhitung dari setelah pemeriksaan. Kewajiban ini berlaku khususnya bagi pegawai yang berasal dari luar daerah.

“Wajib menunjukkan hasil pemeriksaan rapid test dengan hasil non reaktif atau swab dengan hasil negatif yang dikeluarkan dokter RS/Puskesmas bagi pekerja
yang berasal dari luar daerah yang berlaku 14 hari pada saat pemeriksaan,” katanya.

Hal ini berlaku di beberapa sektor seperti usaha makanan seperti restoran, rumah makan, kafe, warung, atau usaha sejenis. Ketentuan juga berlaku pada karyawan toko swalayan, toko dan pusat perbelanjaan, bagi pemilik gerai atau stan. Lalu karyawan hotel dan apartemen.@LI-13