LENSAINDONESIA.COM: Sejumlah warga Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang mempertanyakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan Scrab (barang bekas) dari PT Cheil Jedang Indonesia yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Warga menduga ada ketidakberesan dalam pengelolaan dana tersebut. Sehingga warga didampingi Lembaga Studi Wacana Indonesia (LSW Indonesia) melakukan klarifikasi atas persoalan itu kepada manajemen perusahaan yang bergerak di bidang produksi, distribusi, perdagangan dan produsen bumbu makanan itu.

Namun sayang, upaya warga untuk bertemu dengan pihak PT Cheil Jedang menemuai hambatan. Karena warga tidak diperkenankan masuk dikarenakan perusahaan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 yakni yang diperbolehkan masuk perusahaan harus sudah melakukan rapid tes.

“Maksud kedatangan kami ke perusahaan PT Cheil Jedang hanya meminta data dan informasi pemberian dana CSR atau Scrab ke Desa Jatigedong itu saja, sebagai pembanding dugaan penyelewengan dana BUMDes yang bersumber dari dana Scrab,” kata Direktur Eksekutif LSW Indonesia Abdul Aziz SH usai bertemu salah satu perwakilan PT Cheil Jedang, Rabu (15/07/2020).

“Sesuai prosedur yang diminta, saya tadi tunjukkan surat hasil rapid test waktu kedatangan. Sehingga diperbolehkan masuk, namun warga tidak diperbolehkan. Ini yang kami sayangkan, kenapa tadi tidak diperbolehkan, kan warga sekitar perusahaan,” bebernya.

Lebih lanjut, Abdul Aziz menjelaskan bahwa pokok persoalan sebenarnya warga meminta transparansi dan informasi data penyaluran Scrab selama rentan waktu 2014 sampai 2019. Dan apabila tidak diberikan atas keterbukaan informasi publik itu akan diteruskan ke komisi informasi Jawa Timur.

“Kita akan sengketakan ke komisi informasi, apabila tidak diberikannya akses keterbukaan informasi itu,” pungkasnya.@Obi