LENSAINDONESIA.COM: Ditreskrimum Polda Jatim berhasil meringkus oknum notaris perempuan, DC, di sebuah kantor notaris Jl Pahlawan 30, Surabaya. Tersangka ditangkap karena diduga melakukan tindak penipuan terhadap belasan orang dan meraup keuntungan Rp 65 miliar.

Ditreskrimum Polda Jatim, Kombes Pitra Ratulangi mengatakan, DC telah melancarkan aksi penipuannya sejak Februari hingga awal Juli. Polisi melakukan penyelidikan setelah menerima 15 laporan dari korban.

“Berawal laporan korban P pada Februari 2020 di Polrestabes Surabaya, terus berkembang hingga sampai hari ini masih ada laporan masuk kaitan perbuatan DC, sehingga total 15 laporan. Kami prediksi masih ada korban lain yang melapor,” ujar Kombes Pitra di Mapolda Jatim, Kamis (23/7/2020)

Kombes Pitra mengungkapkan, penipuan yang dilakukan DC tidak ada kaitannya sama sekali dengan profesi yang digeluti. Bahkan setelah banyak meraup keuntungan, DC juga sempat mengundurkan diri dari kantornya.

“Tersangka DC ini notaris namun perbuatannya tidak terkait profesinya. Setelah melakukan tindakan kejahatan dia mengajukan permohonan pengunduran diri di kantor, Tapi kami belum dapat pengesahannya,” sambungnya.

Modus penipuan DC untuk mengelabui para korbannya adalah meminjam uang dengan iming-iming mendapat offering letter (surat kontrak kerja) dari suatu bank di Malang.

“Korban tergiur karena dijanjikan keuntungan 3,5 sampai 6 persen lalu menyerahkan uangnya yang dijamin dengan cek. Namun setelah jatuh tempo pinjaman uang tidak dikembalikan dan cek dicairkan ternyata tidak ada dananya,” ungkap Kombes Pitra.

Saat ini, Polda Jatim tengah mendalami kasus tersebut. Namun penyidik sedikit terkendala karena DC sering berdalih dan menyangkal perbuatannya.

“DC mengaku sendiri menjalankan aksinya. Nah soal uang para korban dipakai apa, kami juga kesulitan ambil keterangan dari yang bersangkutan. Alasannya banyak, dan sering menyangkal pertanyaan penyidik,” imbuhnya.

Atas perbuatan yang merugikan banyak pihak, DC diganjar pasal tindak pidana Penipuan dan Penggelapan, 378 KUHP dan 372 KUHP. Dengan ancaman hukuman 4 tahun di penjara. @wendy