LENSAINDONESIA.COM: Memperingati momen tragedi demokrasi berdarah, yakni penyerbuan mimbar bebas demokrasi yang berpusat di kantor PDI Jalan Diponegoro Jakarta, oleh rezim otoriter ditandai dengan kerusuhan pengambilalihan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 yang dikenal dengan istilah “kudatuli”, dan jatuh pada Senin ini, di antara para pelaku sejarah “Kudatuli” memperingatkan keras Presiden Joko Widodo. Jokowi diminta agar bertindak tegas dalam memimpin Indonesia di era pandemi global Covid-19.

“Presiden Jokowi harus berani dan tegas. Sebab, yang dipertaruhkan lebih dari 250 juta nasib dan masa depan rakyat Indonesia. Jadilah Presiden yang dibanggakan rakyatnya, bukan Sebaliknya,” tegas Budi Mulyawan yang akrab dipanggil Cepi, salah satu pelaku sejarah tragedi penyerangan yang dilakuan rezim otoriter Orde Baru hingga menelan banyak korban, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (27/7/2020).

Cepi yang kini menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Kombatan (Komunitas Banteng Asli Nusantara), mengingatkan agar Presiden Jokowi tidak menyia-nyiakan perjuangan bangkitnya kaum nasionalis pada mimbar bebas demokrasi “Kudatuli” yang menjadi cikal bakal lahirnya Reformasi 1998, hingga NKRI menganut Pemilihan Presiden secara langsung pasca rezim otoriter Soeharto menjadi presiden selama 32 tahun tumbang.

“Jangan sia siakan perjuangan panjang pejuang pejuang Reformasi yang telah menumbangkan rezim Otoriter. Dari tonggak pergerakan peristiwa 27 Juli 1996 yang pada akhirnya melahirkan Reformasi 1998 serta Pilpres langsung,” tegas Ketum Ormas Komunitas Banteng Asli Nusantara, yang klaim melanjutkan cita-cita nasionalisme Proklamator RI Ir Soekarno.

Cepi yang pada Pilpres 2019 mengendalikan Kombatan seluruh Indonesia menjadi relawan militan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin ini, menilai bahwa Presiden Jokowi ‘anak kandung’ Reformasi yang dilahirkan dari ‘Rahim Kaum Nasionalis’.

“Sebagai anak kandung seyogyanya tidak berpaling dari saudara saudaranya yang telah setia mendukung, memenangkan dan mengawal sejak Walikota Solo hingga Presiden RI. JASMERAH..!!!,” imbuhnya, mengritisi.

Karena itu, lanjut Cepi, langkah tegas dan berani Presiden Jokowi ditunggu Kaum Nasionalis, agar percepatan penanganan pandemi Covid 19 dan pemulihan ekonomi bangsa dapat segera dituntaskan, dan segala kebijakan/regulasi serta seluruh program pemerintah dapat diimplementasikan dengan baik dan benar.

“Sehingga visi dan misi Presiden Jokowi yang telah dicanangkan, dapat segera dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga bangsa,” tandas Cepi.

Langkah berani dan tegas itu, menurut Cepi, khususnya terkait menindaklajutkan ‘warning’ Presiden Jokowi bahwa pemerintahan jajarannya dalam menghadapi persoalan bangsa harus menjalankan visi dan misi Presiden.

“Ingat, pemerintah era ini tidak boleh lepas dari cita cita luhur bangsa dan amanat Reformasi. Presiden Jokowi sudah menyatakan dengan tegas kepada seluruh pembantunya untuk melaksanakan Visi dan Misi Presiden. Bagi para pembantu Presiden yang gagal (tidak mampu) melaksanakan tugas tersebut, harus diganti..!!!,” tegas Cepi.

Ketegasan itu sangat ditunggu, menurut Cepi, mengingat saat ini bangsa bangsa di dunia dilanda wabah virus Covid 19, termasuk wilayah terdampak Indonesia, penderita covid 19 masih mengalami lonjakan yang cukup mengkawatirkan. Setelah sekian lama, bangsa ini bergelut dengan wabah, ekses yang tidak dapat dihindari yakni masalah sosial menuju krisis ekonomi telah menghadang.

Walaupun, lanjutnya, sebagian wilayah telah menyatakan siap memasuki fase, “Normal Baru”. Dalam menghadapi wabah, dengan krisis ekonomi menghantui, diperlukan kesungguhan dan ketegasan jajaran pemerintah dan segenap elemen masyarakat untuk memasuki fase “Normal Baru”, demi menghindar dari krisis.

Cepi mengapresiasi sikap Presiden Jokowi yang siap dengan langkah langkah ekstra (extra ondinary), di antaranya membubarkan 18 lembaga yang dianggap tidak efektif lagi.

“Presiden Jokowi menunjuk Menteri BUMN Erik Tohir sebagai Kordinator Satgas Pemulihan Ekonomi, yang sekaligus membuktikan, bahwa Indonesia sedang menghadapi ambang Krisis Ekonomi,” ungkap Cepi, menunggu ada ketegasan Presiden berikutnya yang lebih amanah mencerminkan anak “kandung reformasi”. Sehingga, kelak perjuangan kaum nasionalis tidak sia sia karena ancaman munculnya neo orde baru atau neo-neo serumpunnya. @jrk