LENSAINDONESIA.COM: Pemerintah Indonesia melalui Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro melakukan kunjungan virtual dengan Menteri Teknologi dan Industri Turki, Mustafa Varank.

Dalam kesempatan tersebut, kedua negara salah satunya membahas peluang kerja sama pengembangan vaksin dan obat-obatan Covid-19.

Dalam kunjungan yang diprakarsai KBRI Ankara, Selasa (28/7), Menristek didampingi oleh Duta Besar RI untuk Turki, pejabat di lingkungan Kemenristek dan Kemlu, Kepala BPPT, Kepala LAPAN, Ketua Lembaga Eijkman serta pimpinan industri berbasis teknologi antara lain PT Bio Farma, PT Dirgantara Indonesia, dan PT RAI.

“Indonesia sangat terbuka untuk memperkuat kerja sama di bidang-bidang yang sudah dibahas,” ujar Bambang dalam keterangan tertulis KBRI Ankara.

“Karena itu, kita setuju membahas memorandum kesepakatan di masing-masing bidang sesegera mungkin, dan juga menandatangani sebuah perjanjian di antara kedua menteri yang akan menjadi payung bagi kerja sama-kerja sama tersebut,” sambungnya.

Berdasarkan informasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Turki merupakan satu dari empat negara/pihak di dunia yang sudah mencapai kemajuan didalam pengembangan vaksin di dunia. Sedangkan, PT Bio Farma merupakan salah satu industri vaksin paling besar di dunia Islam.

Selain menjalin kerja sama bidang farmasi, kedua menteri tersebut juga membahas perkembangan teknologi dan potensi kerja sama lainya seperti bidang industri pesawat terbang komersial jenis N-219 dan R-80, satelit dan peluncuran satelit (roket), serta pengembangan teknologi pesawat tanpa awak (drone).

Saat ini, Indonesia di bidang industri pesawat terbang komersial memiliki pengalaman panjang. Terdapat tiga proyek pengembangan pesawat terbang yang sedang dijalankan Indonesia, yaitu N-219 dan N-245 oleh PT Dirgantara Indonesia, serta R-80 oleh PT RAI.

Selain itu, di bidang satelit dan roket, Turki sudah mulai mengembangkan satelit komunikasi skala besar yang sepenuhnya merupakan buatan dalam negeri dan merupakan salah satu negara maju dalam industri roket, khususnya untuk keperluan militer.

Sebab itu, kedua negara melihat peluang besar untuk bekerja sama mengembangkan teknologi satelit, roket, serta peluncuran satelit.

“Dari presentasi-presentasi yang disampaikan kedua delegasi, semakin jelas bahwa peluang konkret kerja sama teknologi di berbagai bidang di antara Indonesia dan Turki sangat menjanjikan. Kita harus segera menindaklanjuti,” terang Menteri Varank.@licom