LENSAINDONESIA.COM: Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Ormas Komunitas Banteng Asli Nusantara (Kombatan), Budi Mulawan, mengritisi jajaran pemerintah agar lebih maksimal dan lebih fokus menangani wabah Covid-19 yang berkepanjangan. Apalagi, pasien wabah tengah tembus angka lebih seratus ribu, ancaman krisis ekonomi terus menghantui.

“Perlu keseriusan dan lebih fokus, termasuk menggerakkan segenap elemen masyarakat memasuki fase Normal Baru. Jangan terus menerus Presiden Jokowi dipaksa teriak-teriak berdalih menghindari krisis,” kata Cepi, panggilan akrab Budi Mulyawan, yang juga pelaku sejarah tragedi demokrasi di era Orde Baru terkait penyerbuan Kantor PDI pada 27 Juli 1996 yang dikenal dengan sebutan “Kudatuli”, Kamis (30/7/2020).

Cepi kembali mengingatkan pernyataan Presiden Jokowi bahwa siap dengan langkah langkah extra ordinary menghadapi dampak pandemi, agar tidak dipandang sebelah mata. Apalagi, sudah dibuktikan diantaranya membubarkan 18 lembaga yang dianggap sudah tidak efektif .

“Presiden Jokowi juga menunjuk Menteri BUMN Erik Tohir sebagai Koordinator Satgas Pemulihan Ekonomi. Ini sekaligus membuktikan Indonesia sedang menghadapi ambang Krisis Ekonomi,” imbuh Ketum Ormas kaum nasionalis yang saat Pilpres 2019 menjadi relawan militan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

DPN KOMBATAN, kata Cepi, mengapresiasi langkah Presiden Jokowi tersebut. Namun, pihaknya memandang perlu langkah tersebut dioptimalkan. Sebaliknya, tidak melakukan blunder politik dengan menempatkan figur-figur yang kompetensinya justru “over estimasi”.

“Person ditunjuk Presiden haruslah berkompeten dibidangnya, belum punya beban tugas berat (menumpuk). Erik Tohir, mungkin dari aspek kompentensi, sangat mumpuni. Tapi bersangkutan sekarang sedang memangku tugas dan beban tidak kalah berat sebagai Menteri BUMN,” ungkap Cepi.

Menurut dia, tugas baru Erick Thohir seolah melebihi level Menko (Menteri Koordinator). Itu pun belum tentu dapat diemban dengan baik. Belum lagi sebagai Menteri BUMN, Erick Tohir juga harus menangani 107 perusahaan pasca melakukan penyusutan dari total 142 perusahaan.

Cepi khawatir akan terjadi blunder politik akibat beban berat dipikul Erick Thohir dengan pengalaman di panggung politik nasional terbilang “new comer”. Karenanya, Presiden Jokowi perlu melakukan reshuffle terhadap Erick Thohir. Supaya lebih fokus dan lebih serius dengan jabatan baru sebagai Ketua Pelaksana atau Koordinator Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional dan Penanganan Covid-19 sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 82 Tahun 2020.

“Sebaliknya, dengan mengganti Menteri BUMN dengan yang lain, tentu Erik Tohir dapat lebih fokus dan sukses dalam mengemban tugas barunya,” tegas Cepi.

DPN Kombatan, kata Cepi, berpandangan masih banyak anak bangsa lainnya yang juga mumpuni sebagai Menteri BUMN. Sebaliknya, Erick Thohir fokus menjadi Koordinator Pemulihan Ekonomi dan Penanganan Covid-19, niscaya wabah global itu akan bisa dikendalikan.

“Pandemi Covid 19 adalah wabah global, dan kian hari terkesan tidak terkendali. Prihatin, saat ini, wabah tersebut menembus lebih 100.000 kasus,” tandasnya.

DPN KOMBATAN, lanjut Cepi, berpandangan sebaiknya pemerintah mendahulukan fokus menangani “akar masalah” untuk percepatan penuntasan covid 19. Bahkan, lebih mengoptimalkan tugas dan fungsi Gugus Tugas di semua lini, mengedepankan pelaksanaan protokol kesehatan dengan sangat ketat dan masif di semua wilayah. Harus dimaksimalkan lagi peran semua elemen, terutama aparat TNI, POLRI dan Satpol PP.

“Sehingga, wabah Covid -9 dapat segera diminimalisir sebelum tembus angka 180 ribu kasus. Bisa saja lebih besar lagi sebagaimana diprediksi para ahli jika penanganannya tidak tepat sasaran,” ungkap Cepi.

DPN Kombatan, katanya lagi, mengingatkan bahwa yang terjadi saat ini wabah covid 19. Krisis ekonomi adalah ekses dari pandemi itu.

“Cara pandang dan penanganan jangan dibolak balik. Fokus pada “Akar Masalah” (penanganan wabah)-nya dulu. Tuntaskan, baru penanganan krisis ekonomi menyertai,” kritik Cepi.

“Hal itu harus ditempuh, agar krisis ekonomi yang dialami warga bangsa tidak berlarut larut (berkepanjangan). Tuntaskan terlebih dahulu akar masalahnya. Jangan Takut dengan resesi,” tegasnya

DPN Kombatan juga mengritisi anggaran disiapkan sangat besar, nantinya akan sia sia bila cara penanganan akar masalah tidak tepat. Apalagi, masih sangat dirasakan bahwa sebagian besar pembantu presiden belum satu perasaan dengan presiden.

“Dalam situasi Krisis, butuh penghematan dan efektifitas anggaran. Ternyata, tampak kasat mata, beberapa kementerian seolah tidak peduli. Seperti Kementerian Pertahanan akan melakukan pembelian Alutsista dengan anggaran sangat besar. Padahal, pemerintah butuh anggaran sangat besar untuk membeli dan memproduksi anti virus yang tidak sedikit,” kritiknya lagi.

“Butuh kearifan kita semua, dan kepemimpinan nasional yang kuat. Untuk itu, DPN KOMBATAN sebagai Ormas berbasis Nasionalis ikut merasa terpanggil, agak penuntasan wabah Covid-19 dan resesi bisa kita hindari dari Bumi Nusantara tercinta ini,” pungkasnya, seraya mengepalkan tangan dan berpekik, “Merdeka!”. @jrk