LENSAINDONESIA.COM: Ledakan besar di Kota Beirut, Lebanon pada Selasa (04/08/2020) diduga berasal dari 2.700 ton amonium nitrat yang disimpan dalam gudang pelabuhan sejak 2014.

Diberitakan The Guardian, Perdana menteri Lebanon, Hassan Diab mengatakan, 2.700 ton amonium nitrat meledak setelah disimpan di sebuah gudang sejak 6 tahun lalu.

Sesuai dengan laporan sebuah kapal yang membawa bahan kimia dengan jumlah serupa telah menurunkan muatannya di pelabuhan pada tahun 2013.

Amonium nitrat (NH4NO3) adalah padatan kristal putih yang bisa larut secara alami, yang saat ini lebih dikenal sebagai saltpetre.

Simpanan terbesar amonium nitrat ditemukan di Gurun Atacama di Chili. Saat ini hampir 100% bahan kimia yang digunakan adalah sintetis, diproduksi dengan mereaksikan amonia dengan asam nitrat.

Sementara itu, seorang mantan agen intelijen Amerika Serikat (AS) CIA dengan pengalaman luas di Timur Tengah, Robert Baer, menyangsikan sumber ledakan yang terjadi di Beirut Lebanon, Selasa (04/08/2020). Menurutnya ledakan itu tak sekedar amonium nitrat.

Disebutnya ledakan bisa saja dari amunisi dan propelan (bahan bakar atau sumber tenaga suatu mesin roket). Menurutnya ada “senjata” yang terlibat dalam ledakan meski tak menjelaskan milik siapa.

“Itu jelas peledak militer,” tegasnya dikutip CNN International, Rabu (05/08/2020).

“Itu bukan ‘pupuk’ seperti amonium nitrat. Saya yakin hal itu.”

Dia pun mengatakan dari pengalamannya, dengan pemerintahan Lebanon yang ia tuding korup, apa saja bisa terjadi di sana. Termasuk seseorang yang menyimpannya di sana.

“Anda melihat bola oranye itu (dari api) dan itu jelas. Seperti saya katakan, ada sebuah peledak militer.”

“Saya sudah bekerja di Lebanon bertahun-tahun, tidak ada yang mengakui mereka menyimpan bahan peledak militer di pelabuhan.”

Meski begitu belum ada komentar dari pemerintah yang menjawab keraguan ini. Otoritas sebelumnya mengaku ledakan berasal dari 2.750 ton amonium nitrat yang telah enam tahun tersimpan dalam gudang-gudang pelabuhan, tempat ledakan terjadi.

Amonium nitrat merupakan hal berbahaya, sebab jika bersentuh dengan api atau sumber penyulut lain bisa meledak hebat.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, ledakan di Beirut merupakan sebuah serangan.

Trump menyatakan hal tersebut saat menjawab pertanyaan wartawan.

Presiden kontroversial itu mengutip pernyataan pejabat militer AS yang memberi informasi kepadanya. Namun ia tidak menjelaskan detil soal sang pembisik.

“Ini – menurut mereka, mereka akan tahu lebih baik daripada saya, tetapi mereka tampaknya berpikir itu adalah serangan. Itu semacam bom,” katanya kepada wartawan di Gedung Putih.

Dalam kesempatan itu, Trump juga menyampaikan belasungkawa pada para korban dan menawarkan bantuan kepada rakyat Lebanon. “Insiden itu serangan mengerikan.” katanya.@LI-13